Ubah Sampah Jadi Berkah: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Energi Listrik dan Bahan Bakar Kendaraan

Ubah Sampah Jadi Berkah: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Energi Listrik dan Bahan Bakar Kendaraan

(Suatu hari Mpok Hindun dan Mpok Minah mencium bau tidak sedap dari arah rumah tetangganya, Emak)

Mpok Hindun: (menutup hidung) “Iiiih, bau apaan sih ini? Gak enak banget. Hoeek”

Mpok Minah: “Maap mpok Hindun, bukannya saya mau nuduh, bukan juga saya mau sok tahu, tapi maap, itu bau sampah asalnya dari sampah rumah Emak yang numpuk”.

Mpok Hindun: “Diasar!!!  Nyusahin tetangga aja…awas ya Emak!”

(Mereka berdua menghampiri rumah Emak)

Mpok Hindun: (Mengetuk pintu) “Assalamualaikum, Mak, Emak, Buka Pintunya!”

(Emak membuka pintu dan keluar bersama Oneng, anaknya)

Oneng: ““Waalaikumsalam. Eh Mpok Minah, Mpok Hindun”.

Emak: “Waalaikumsalam. Yaelah, ada apaan nih ribut-ribut?”

Mpok Minah: “Maap, mak bukannya saya mau ganggu, tapi maap, kita ke sini, cuma mau tanya”.

Mpok Hindun: “Emak ini gimana sih, masa sampah udah numpuk gitu dibiarin?!”

Emak: “Kenape nyalahin gue? Kate pak RT, sampahnye kagak bisa diangkut, bukan karena kite kagak bayar iuran, tapinye, ntu TPA udeh penuh. Gare-gare sampah, kite semuanye sengsara!”

*****

Pengalaman Menyebalkan Saya terkait Sampah

Dialog di atas memang merupakan karangan saya semata. Akan tetapi, saya pernah mengalami pengalaman menyebalkan, sebagaimana tokoh dalam dialog di atas, yang berkaitan dengan sampah. Dua bulan yang lalu, saya tengah membereskan lantai atas rumah pada sore hari. Tiba-tiba saya mencium bau tidak sedap yang mengganggu. Bau busuk itu tidak hilang hingga malam hari dan semakin parah ketika hujan turun.

Awalnya, saya mengira bau itu berasal dari septic tank yang rusak. Setelah diperiksa, septic tank saya tidak bermasalah. Akhirnya, saya memeriksa halaman depan rumah, karena saya menduga bahwa sampah di tempat sampah rumah saya belum diangkut petugas kebersihan. Lagi-lagi perkiraan saya meleset. Tidak ada sampah menumpuk yang belum diambil petugas di rumah saya maupun rumah tetangga. 

Ubah Sampah Jadi Berkah: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Energi Listrik dan Bahan Bakar Kendaraan

TPA Cipeucang, Tangerang Selatan Jebol
(Sumber: detik.com)


Setelah saya mencari tahu penyebabnya, rupanya Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipeucang yang berlokasi 10km dari BSD, Tangerang Selatan, jebol, sehingga sampah tumpah ke sungai Cisadane, mengalir di badan sungai, dan menyebabkan bau tak sedap di permukiman warga. Permukiman elit menjadi berbau sampah. Akibat bau tersebut, saya harus sering-sering menutup jendela agar bau sampah tidak masuk ke rumah. Untung saja, TPA yang jebol bisa segera diperbaiki dalam dua bulan, sehingga warga dapat kembali beraktivitas normal.


Permasalahan Sampah di Jakarta

Jebolnya TPA Cipeucang yang memicu bau tidak sedap di permukiman warga hanyalah gunung es permasalahan sampah di kota-kota besar di Indonesia, terutama Jakarta dan sekitarnya. TPA Cipeucang jebol karena sampah di dalamnya sudah melebihi kapasitas TPA.

Ubah Sampah Jadi Berkah: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Energi Listrik dan Bahan Bakar Kendaraan
Jumlah dan Komposisi Sampah Jakarta 2018
(Sumber: katadata.com)


Hingga 2018, 7.500 ton sampah dihasilkan di Jakarta setiap hari (sumber: Pemprov DKI Jakarta). Pada kurun waktu lima tahun terakhir, jumlah sampah di DKI Jakarta bertambah sebanyak 36% dengan perkiraan setiap orang menghasilkan 0,75 kg sampah per harinya. 

Peningkatan jumlah penduduk Jakarta menyebabkan kota kewalahan menangani sampah yang kian bertambah. Akibatnya, sebagian besar sampah hanya dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau tercecer sepanjang badan air, sehingga menghambat aliran air dan memicu banjir di musim hujan. Melihat kejadian di atas, cita-cita Indonesia Bebas Sampah 2025 sangat sulit diwujudkan.


Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa) Solusi Permasalahan Sampah di Jakarta

Untuk menanggulangi masalah sampah di Indonesia, khususnya di kota besar seperti Jakarta, pemerintah Indonesia telah merumuskan undang-undang tentang percepatan pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Peraturan tersebut ada pada Perpres No. 35/2018, mengenai Percepatan Pembangunan Instalasi Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik berbasis Teknologi Ramah Lingkungan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) telah mengesahkan rencana pembangunan 12 unit pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) di Indonesia dalam Rapat Kerja Nasional Gerakan Indonesia Bersih tahun 2019.

Provinsi DKI Jakarta merupakan salah satu wilayah yang ditunjuk sebagai lokasi pembangunan PLTSa. Jadi, sampah kota Jakarta yang sangat banyak dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi baru & terbarukan (EBT) untuk pembangkit listrik.

Pembangkit listrik tenaga sampah adalah pembangkit listrik yang energi penggeraknya berasal dari sampah yang telah melalui serangkaian proses. Proses pengolahan sampah tersebut menggunakan teknologi ramah lingkungan. Konsep Pengolahan Sampah menjadi Energi (Waste to Energy) atau yang biasa disebut PLTSa. Adanya PLTSa dapat menjadi alternatif teknologi pembangkit listrik di Indonesia yang sampai saat ini masih didominasi oleh batu bara dan diesel sebagai sumber energi.

Menteri ESDM, Arifin Tasrif mengatakan bahwa teknologi pengolahan sampah menjadi sumber energi akan menjadi terobosan sumber energi kedepan. Ia mengatakan bahwa dari studi yang telah dilakukan, bahan bakar yang berasal dari sampah lebih murah dibandingkan batu bara.

Ubah Sampah Jadi Berkah: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Energi Listrik dan Bahan Bakar Kendaraan

Proses Pengolahan Sampah Menjadi RDF
(Sumber: Kementerian Lingkungan Hidup)


Bahan bakar dari sampah yang diolah dengan proses Refuse Derived Fuel (RDF) akan menghasilkan senyawa sejenis brisket yang mampu menjadi subtitusi batu bara. Brisket memiliki kalori yang sama dengan batu bara yang biasa digunakan di PLTU. Kedepan dengan adanya brisket ini maka harapannya bisa mensubtitusi ketergantungan dari batu bara.

Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi menargetkan pada 2021 dapat memperbanyak mesin pengolahan dari sampah menjadi brisket (bahan baku energi pengganti batu bara) atau Refuse Derived Fuel (RDF) di beberapa daerah di Indonesia.

Salah satu lokasi yang ideal untuk membangun pembangkit listrik adalah tempat pengolahan sampah terpadu (TPST) Bantargebang, Bekasi, yang berlokasi di sebelah Timur Jakarta. TPST Bantargebang memiliki kapasitas 50 ton sampah per hari (PTL-BPPT, 2018). Saat ini, jumlah sampah dari DKI Jakarta yang masuk ke TPST Bantargebang sekitar 7.000 Ton per hari.

Ubah Sampah Jadi Berkah: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Energi Listrik dan Bahan Bakar Kendaraan

Proses Produksi Sampah untuk PLTSa
(Sumber: BPPT)

PLTSa dijalankan dengan proses termal yang berfungsi untuk memilah dan memusnahkan sampah secara ramah lingkungan. Teknologi ini dikembangkan oleh BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi). Proses termal terbagi dalam tiga proses utama, yaitu proses insinerasi, proses gasifikasi, dan proses pirolisis. PLTSa dengan menggunakan teknologi termal yang dipilih, termasuk kedalam teknologi insinerasi. Teknologi ini telah digunakan di beberapa negara maju seperti Amerika Serikat dan Swedia.

Sampah yang dikumpulkan dari bungker dimasukkan kedalam tungku bakar/furnace (waste incinerator) mengunakan grapple crane. Di sini, sampah dibakar dengan 30-80% oksigen. Gas yang dihasilkan dari proses pembakaran sampah dengan panas sekitar 850°C, digunakan untuk memanaskan air di dalam boiler untuk membentuk uap air menjadi uap jenuh pada tekanan 40 barg dan temperatur 390°C. Boiler dilengkapi dengan economizer untuk memanaskan air umpan boiler hingga mencapai suhu mendekati titik didih air umpan. Uap dihasilkannya dialirkan menuju turbin generator uap. Uap akan menggerakkan baling-baling turbin yang kemudian mengubah energi kinetik dari pergerakan turbin menjadi energi listrik

Proses pengolahan ini akan menghasilkan nilai kalori sampah (LHV) sebesar 1.500 kkal/kg hingga 3.000 kkal/kg dengan kapasitas minimal 50 ton sampah/hari yang akan mampu menghasilkan listrik minimal 400 KW sebagai hasil samping. 


Optimasi PLTSa Agar Lebih Ramah Lingkungan

Banyak orang yang beranggapan bahwa pembangunan PLTSa tidak efektif untuk menyelesaikan masalah sampah di kota besar seperti Jakarta karena berbahaya bagi kesehatan manusia karena zat pencemar yang dihasilkannya. Hasil pembakaran oleh insenerator pada PLTSa menghasilkan beberapa material abu berupa abu terbang (fly ash) dan abu tidak terbang (bottom ash) seperti zat dioksin yang mudah menyebar. Material ini tergolong limbah Bahan Berbahaya, dan Beracun (B3).

Oleh sebab itu, PLTSa perlu dilengkapi oleh unit pengelolaan pencemaran udara, yang terdiri dari unit quenching yang digunakan untuk mencegah terbentuknya kembali dioksin dan furan, unit scrubbing untuk menyerap bahan berbahaya yang tekandung didalam gas buang dan unit bag filter untuk menangkap debu sebelum dibuang melalui cerobong asap. 

Selain dapat mengolah sampah padat, unit pengelolaan pencemaran udara juga dilengkapi unit pengolahan air limbah untuk mengolah air limbah yang keluar dari bungker sampah, limbah domestik dan limbah cair lainnya yang keluar dari unit ini, sehingga air yang dibuang keluar dari unit ini memenuhi standard yang ditentukan. Adanya unit PLTSa dengan unit pengolahan pencemaran udara dan limbah cair ini menjadi solusi atas kekhawatiran pihak-pihak tertentu terhadap masalah emisi gas yang berbahaya seperti dioxin dan furan, bau tidak sedap serta air limbah yang dikeluarkan.


Manfaat PLTSa

Pembangunan PLTSa akan bermanfaat secara nasional, terutama bagi Pemprov DKI Jakarta dan masyarakat umum. Secara nasional, PLN tidak akan merugi karena ongkos produksi listrik dari bahan bakar sampah lebih murah dari harga jual listrik yang dihasilkannya. Untuk menghasilkan listrik dari sampah, dibutuhkan biaya produksi sebesar Rp 300 ribu per ton atau setara dengan 20 USD. Dibandingkan harga produksi batu bara yang mencapai 40-50 USD, produksi energi listrik dari sampah jelas lebih murah.

Berdasarkan penelitian dari IPB yang dilakukan oleh Larasati Aliffia pada tahun 2014, volume sampah di TPST Bantargebang tanpa pengolahan sampah lebih lanjut mencapai 38 ribu ton dalam kurun waktu 2009-2023. Jika sampah diolah menjadi energi listrik, volume sampah dapat berkurang menjadi 31 ribu ton saja. Hal tersebut membuktikan bahwa dalam kurun waktu 15 tahun operasional proyek TPST Bantargebang diperkirakan dapat mengurangi sampah sebanyak 7 ribu ton. 

Bagi masyarakat, adanya PLTSa dapat berguna sebagai sumber energi listrik alternatif yang terjangkau dan ramah lingkungan, karena menurut analisis ekonomi dari IPB, masyarakat mendapatkan total manfaat ekonomi sebesar 39 juta rupiah dari reduksi emisi CO2 sebanyak 115 ribu ton melalui kegiatan pengolahan sampah menjadi pembangkit listrik. 


Mengolah Sampah Menjadi Bahan Bakar Pengganti BBM

Ubah Sampah Jadi Berkah: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Energi Listrik dan Bahan Bakar Kendaraan

Kendaraan di Jakarta
(Sumber: tirto.id)

Sebagai kota oto-politan yang memiliki 3,52 juta unit mobil pribadi dan 13,31 juta unit motor, konsumsi BBM Jakarta sangat tinggi. Konsumsi BBM tersebut menyebabkan ketergantungan BBM yang tinggi, sehingga menyebabkan tingginya impor BBM Indonesia untuk keperluan domestik.

Solusi untuk mengatasi menumpuknya sampah di Jakarta adalah dengan mengolah sampah menjadi bahan bakar pengganti BBM (Chen 2019). Sampah plastik yang telah dipisahkan di TPST Bantargebang dikumpulkan dan diolah dengan proses pirolisis. Pirolisis adalah proses penguraian termokimia pada temperatur di atas 230°C tanpa menggunakan oksigen. Proses ini berlangsung dalam reaktor, seperti yang ditunjukkan pada gambar di bawah ini:

Ubah Sampah Jadi Berkah: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Energi Listrik dan Bahan Bakar Kendaraan

Proses Produksi Bahan Bakar dari Sampah Plastik
(Sumber: kompas.com)

Setelah melalui serangkaian proses, senyawa kimia organik berstruktur kompleks pada sampah plastik diurai menjadi senyawa yang lebih sederhana. Sampah plastik tersusun dari polimer, yang terdiri dari hidrokarbon rantai panjang, yaitu rangkaian antara atom karbon (C) dan hidrogen (H2). Polimer pada plastik “dipatahkan” rantai hidrokarbonnya. Untuk menghasilkan bahan bakar premium diperlukan rantai hidrokarbon dengan molekul lebih pendek, yaitu C6-C10. Agar menghasilkan minyak tanah dan solar perlu rantai hidrokarbon dengan molekul lebih panjang, yaitu C16-C20 untuk solar dan C11-C15 untuk minyak tanah.


Manfaat dan Keunggulan Bahan Bakar dari Sampah

Pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar memiliki manfaat untuk mengatasi masalah penumpukan sampah, terutama sampah plastik di Jakarta. Selain itu, adanya bahan bakar dari sampah dapat dijadikan bahan bakar alternatif bagi kendaraan, sehingga dapat mengurangi tingkat konsumsi BBM di Jakarta, yang dalam jangka panjang dapat mengurangi tingginya impor BBM nasional.

Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Christine Cletus dkk. Pada 2013, bahan bakar yang terbuat dari sampah plastik menghasilkan emisi CO lebih rendah daripada solar biasa. Jadi, penggunaan bahan bakar dari sampah plastik diharapkan dapat mengurangi polusi udara di Jakarta akibat konsumsi BBM.


Peran Pemerintah dalam Mengelola Sampah Menjadi Energi Listrik dan Bahan Bakar Kendaraan

Agar keberlangsungan PLTSa lebih optimal, Pemprov DKI Jakarta dapat bekerjasama dengan Perusahaan Listrik Negara (PLN) terkait energi listrik yang dihasilkan oleh PLTSa. 70% listrik yang dihasilkan dari PLTSa dapat dijual ke PLN. Sementara sisanya, digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional PLTSa. Pengelolaan PLTSa dilakukan oleh perusahaan pemenang tender, yang membayar sewa tanah dan set lainnya.

Pemprov DKI Jakarta perlu menghimbau warga Jakarta untuk mengumpulkan dan memisahkan sampah untuk keperluan PLTSa. Pemprov DKI Jakarta juga dapat mempublikasikan keberadaan manfaat PLTSa di Jakarta di situs web Pemprov DKI Jakarta, media massa, media online, media cetak, dan sosial media. Agar proses sosialisasi ini lebih efektif, Pemprov DKI Jakarta dapat menggandeng tokoh masyarakat, pemuda, LSM, dan influencer untuk melakukan kampanye tersebut.

Berdasarkan penelitian dari IPB, harga jual listrik yang dihasilkan oleh PLTSa Bantargebang masih rendah jika dibandingkan dengan produk listrik dari pembangkit lain yang tidak ramah lingkungan. Pemerintah terutama Kementerian ESDM perlu memberi insentif terkait harga jual listrik ini yaitu dengan memberlakukan kebijakan one price policy untuk seluruh pembangkit listrik. Pemberlakuan kebijakan tersebut dapat mendorong investor tertarik untuk mengembangkan bisnis energi bersih dan ramah lingkungan seperti PLTSa yang terintegrasi dengan TPA setempat. 

Untuk mengoptimalkan pemanfaatan sampah menjadi bahan bakar, Pemprov DKI Jakarta dapat melakukan uji performa bahan bakar dari sampah pada beberapa transportasi umum di Jakarta sebagai permulaan.

Peran pemerintah sebagai pemangku kebijakan dapat dimulai dengan komitmen mendukung penggunaan sampah plastik sebagai salah satu bahan bakar pengganti BBM. Pemerintah juga perlu membangun refinery untuk mengolah sampah plastik menjadi bahan bakar, membuat regulasi terkait distribusinya, dan penetapan harga bahan bakar dari sampah plastik. 


Perlu Kesadaran Bersama

Agar target 23% bauran EBT pada 2025 tercapai, diperlukan kesadaran bersama akan pentingnya energi terbarukan. Dari sisi produsen, belum banyak pelaku industri yang tertarik memproduksi EBT. Akibatnya, pembangkit listrik tenaga sampah belum dgunakan secara massal dan bahan bakar kendaraan dari sampah belum diproduksi dalam skala besar.

Selain itu, peran pemerintah sebagai regulator juga sangat penting. Langkah menerbitkan aturan target bauran energi jangka panjang sudah tepat. Hanya saja, insentif bagi industri yang menggunakan EBT masih sangat minim. Hal ini harus diperhatikan jika target bauran EBT ingin tercapai.

Sama halnya dengan konsumen. Kesadaran industri untuk menggunakan EBT, terutama dari bahan sampah harus lebih ditingkatkan. Karena manfaatnya banyak: ramah lingkungan, bersih, abadi, dan lebih hemat.

Pada akhirnya, kunci keberhasilan mengubah sampah jadi berkah kembali pada kesadaran kita. Teknologinya sudah ada, bahan baku sampah sangat mudah didapatkan. Jika semua pihak terus berusaha dan meningkatkan kesadaran, maka masalah sampah di kota besar khususnya Jakarta dapat terselesaikan dan penggunaan sampah sebagai EBT yang ramah lingkungan dapat terealisasikan.


Referensi:


*****

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Jurnalistik 2020 kategori Blogger yang diselenggarakan oleh Kementerian ESDM. Tautan artikel ini telah disebarkan melalui akun Quora, twitter, dan Linkedin pribadi milik penulis.

Seluruh sumber gambar yang ditampilkan pada artikel ini telah dicantumkan pada masing-masing gambar. Gambar pada bagian depan artikel merupakan buatan penulis.

Belum ada Komentar untuk "Ubah Sampah Jadi Berkah: Mengubah Sampah Menjadi Sumber Energi Listrik dan Bahan Bakar Kendaraan"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel