Pembangunan Mini LNG untuk Pemerataan Energi di Seluruh Negeri

Mini LNG Plant
(Sumber: gasprocessingnews.com)

Halaman adalah bagian penting dari rumah. Rumah tanpa halaman bagaikan tubuh tanpa jiwa; hampa, kosong, dan tidak berkarakter. Akan tetapi, banyak Tuan rumah yang lebih memilih mengurus ruang tengah daripada halaman, karena Tuan rumah kerap menjamu tamunya di ruang tengah, sehingga segala jejak kemasyuran sang Tuan diletakkan di ruang tengah.

Padahal, halaman memiliki peranan yang tidak bisa dianggap remeh. Dalam perspektif tamu, halaman bagaikan cermin yang memantulkan ekspresi jiwa sang Tuan rumah. Ketika halaman banyak dipenuhi sampah dan berantakan, tamu akan enggan memasuki rumah. Sebaliknya, jika halaman dipenuhi bunga-bunga nan elok, tamu pasti senang kala bertandang.

Untuk itu, mempercantik halaman sangat perlu dilakukan, terlebih jika “halaman” tersebut merupakan gapura terdepan bagi “rumah” besar bernama Indonesia.

*****

Kesenjangan Pembangunan dan Akses Listrik di Wilayah Terluar Indonesia

Sejak era kolonialisme, pembangunan di Indonesia banyak berpusat di “ruang tengah” alias pulau Jawa. Berbagai infrastruktur yang mendorong kemajuan ekonomi seperti listrik, jalan raya dan jalan tol, fasilitas pendidikan, hingga fasilitas hiburan banyak tersedia di Pulau Jawa. Gemerlapnya pembangunan di pulau Jawa mendorong banyak orang dari berbagai daerah di Indonesia untuk bermigrasi ke pulau Jawa

Pembangunan Mini LNG untuk Pemerataan Energi di Seluruh Negeri
Salah Satu Sekolah di Wilayah Terluar yang Belum Teraliri Listrik
(Sumber: CNN Indonesia)

Pembangunan yang tidak merata ini membawa dampak negatif bagi daerah lain di Indonesia, terutama “halaman rumah” Indonesia atau daerah-daerah terluar. Salah satu wujud kesenjangan pembangunan tersebut adalah belum meratanya akses energi (listrik). Hingga tahun 2019, ketika Indonesia hampir genap 75 tahun merdeka, sebanyak 433 daerah di wilayah terluar belum memiliki akses listrik. Desa tersebut tersebar di empat provinsi yaitu Papua sebanyak 325 desa, Papua Barat 102 desa, Nusa Tenggara Timur (NTT) 5 desa, dan Maluku 1 desa.

Sebetulnya, ada berbagai potensi sumber energi untuk pembangkit listrik yang dapat dimanfaatkan sesuai dengan kemampuan masing-masing daerah. Salah satu potensi pembangkit listrik yang dapat dimanfaatkan untuk menerangi wilayah terluar Indonesia itu adalah gas alam, karena gas alam tersedia di beberapa wilayah terluar Indonesia seperti Maluku, NTT, Papua Barat, dan Papua.

Pemerataan Energi Listrik di Seluruh Negeri Melalui Pembangunan Mini LNG

Walaupun Indonesia merupakan salah satu negara penghasil gas alam terbesar di dunia, pemanfaatan gas alam dalam bentuk LNG di Indonesia masih belum optimal. Penyebab utama ketidakoptimalan pemanfaatan LNG adalah keterbatasan infrastruktur pengolahan gas alam. Akibat pemanfaatan LNG yang belum optimal, sebagian besar LNG yang diproduksi di Indonesia diekspor. Pemanfaatan LNG untuk konsumsi domestik hanya sekitar 405,2 BBTUD, sangat sedikit dibandingkan dengan volume LNG yang diekspor yaitu 1.907,8 BBTUD

Pembangkit listrik yang seharusnya menjadi industri utama untuk memanfaatkan gas alam, masih belum memanfaatkan gas alam dengan optimal, karena hingga saat ini pembangkit listrik di Indonesia masih betumpu pada batu bara dan minyak bumi.

Pembangunan Mini LNG untuk Pemerataan Energi di Seluruh Negeri
Rasio Elektrifikasi Indonesia tahun 2019
(Sumber: PLN)

Pada tahun 2019, RE (rasio elektrifikasi) nasional baru mencapai 98,89%. Meski RE nasional sudah tinggi, masih banyak desa-desa di wilayah terluar Indonesia yang belum memiliki akses listrik. Sebagian besar wilayah yang belum teraliri listrik berada di wilayah Indonesia Timur yang jauh dari pusat kota. Padahal, pemerataan akses listrik di seluruh negeri adalah kunci kemajuan ekonomi negara, karena daerah yang teraliri listrik dengan baik akan memiliki ekonomi yang lebih maju.

Pembangunan Mini LNG untuk Pemerataan Energi di Seluruh Negeri
Infrastruktur Pengolahan Gas Alam di Indonesia
(Sumber: SKK MIGAS)

Salah satu infrastruktur yang diperlukan untuk mengoptimalkan produksi dan distribusi LNG adalah jaringan pipa gas. Akan tetapi, pemasangan jaringan pipa gas di negara kepulauan seperti Indonesia sangat tidak efisien. Pembangunan jaringan pipa gas yang melintasi laut sulit dilakukan, karena memerlukan waktu konstruksi yang lama serta biaya konstruksi dan operasional yang sangat besar. Oleh karena karena itu, infrastruktur berskala regional seperti mini LNG sangat dibutuhkan untuk mengatasi masalah tersebut.

Pembangunan terminal mini LNG di berbagai daerah merupakan bentuk keseriusan Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), dalam mengelola sektor energi dalam 5 tahun terakhir.

Apa itu Mini LNG dan Bagaimana Proses Produksinya?

Mini LNG merupakan plant pemroduksi LNG dengan kapasitas kurang dari 100.000 MTPA (million ton per anuum/juta ton per tahun) atau kurang dari 16MMSCFD (juta kaki kubik per hari). Adapun proses produksi pada mini LNG hingga digunakan untuk PLTG dapat dilihat pada infografik berikut ini

Manfaat Pembangunan Mini LNG


LNG yang dihasilkan dari mini LNG menghasilkan CO2 (karbon dioksida) 10 kali lebih rendah dibandingkan minyak bumi dan batu bara. Selain itu, polutan yang dihasilkan oleh LNG juga 10 kali lebih rendah daripada batu bara dan minyak bumi.  Sehingga, pembangunan mini LNG untuk pembangkit listrik ramah lingkungan dan sejalan dengan upaya diversifikasi energi yang dicanangkan pemerintah Indonesia untuk mendukung pelestarian lingkungan.

Pembangunan Mini LNG untuk Pemerataan Energi di Seluruh Negeri
Mini LNG Sambera
(Sumber: Bisnis.com)
Pembangunan mini LNG merupakan alternatif pengembangan fasilitas pengolahan gas alam ketika harga minyak dunia rendah, karena Pertamina, PGN, dan perusahaan lain yang mengembangkan mini LNG tidak perlu mengeluarkan biaya pembangunan, biaya pengadaan unit pengolahan gas alam, dan biaya operasional yang besar, sehingga tetap menguntungkan dari sisi ekonomi.

Pembangunan mini LNG berguna untuk penyedia bahan bakar untuk pembangkit listrik tenaga gas (PLTG). Salah satu fasilitas mini LNG yang telah beroperasi penuh dan memasok LNG untuk pembangkit listrik adalah mini LNG di Kabupaten Kutai Kertanegara yang berlokasi di dekat PLTG (Pembangkit Listrik Tenaga Gas) Sambera. Pada proyek ini, Pertagas Niaga akan memasok kebutuhan pembangkit listrik berkapasitas 2×30 Megawatt (MW) serta membangun fasilitas mini regasifikasi.

Pembangunan Mini LNG untuk Pemerataan Energi di Seluruh Negeri
Truk Pengangkut LNG
(Sumber: Bisnis.com)

Suplai LNG untuk pembangkit listrik tersebut diangkut dengan menggunakan truk dan kapal. Metode transportasi LNG dengan truk dan kapal merupakan salah satu upaya untuk menjangkau wilayah pembangkit terpencil yang tidak terjangkau pipa gas.

Kedepannya, PLN akan membangun beberapa pembangkit listrik bertenaga gas yang pasokan gas nya berasal dari mini LNG. Adapun wilayah-wilayah yang akan dibangun PLTG adalah Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara dengan kebutuhan LNG sebesar 184,5 MMSCFD, Sumatera Selatan dengan kebutuhan LNG 33,7 MMSCFD, dan Riau dengan kebutuhan LNG sebanyak 95 MMSCFD.
Pembangunan mini LNG adalah salah satu solusi untuk menurunkan biaya pokok penyediaan (BPP) pembangkit dengan mengurangi pemakaian bahan bakar minyak (BBM) yang biasa digunakan pada pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD). Penghematan biaya energi primer untuk pembangkit listrik dapat dihemat hingga Rp70 miliar per tahun serta dapat mengurangi BPP pembangkit sebesar 38%.

Pembangunan infrastruktur pengolahan LNG skala mini bertujuan untuk memenuhi kebutuhan para konsumen gas yang tidak mendapatkan akses gas pipa ataupun yang membutuhkan gas dengan volume tidak terlalu besar, misalnya pembangkit-pembangkit listrik berkapasitas kecil yang berada di berbagai pulau terluar di Indonesia. Konsep mini LNG sesuai dengan kondisi geografis Indonesia yang merupakan negara kepulauan, karena tidak memerlukan lahan yang luas, proses produksinya relatif singkat, dan produk LNG nya dapat ditransportasikan dengan mudah menggunakan kapal kecil dan truk.


Langkah-langkah yang Harus Dilakukan untuk Mengoptimalkan Pembangunan dan Pemanfaatan Mini LNG

Ada beberapa usulan yang saya ajukan untuk mengoptimasi pembangunan mini LNG untuk pembangkit listrik, baik secara teknis (terkait proses produksi LNG) maupun secara sosial-kemasyarakatan. Optimasi perlu dilakukan agar pembangunan mini LNG lebih efisien, sehingga dapat menjadi solusi efektif masalah pemerataan energi di Indonesia dan dampak positifnya dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

Optimasi proses likuefaksi 

Proses likuefaksi (pencairan gas menjadi LNG) dengan metode N2 expander cycle digunakan untuk produksi LNG skala mini. Agar proses likuefaksi dapat berjalan lebih efisien, sebaiknya dilakukan pre-cooling, pada feed gas (gas masukkan) atau pada refrigerant.

Untuk mencegah kebocoran pada kompresor yang digunakan, diperlukan pemasangan segel (seal). Pemasangan labyrinth seal dapat meminimalisir risiko terjadinya kebocoran hingga 3-6%, sementara itu carbon seal mampu mengurangi kebocoran hingga 0,2%.

Selain itu, agar refrigerant yang digunakan pada proses likuefaksi tidak terbuang, perlu dipasang buffer drum untuk penyimpanan sementara. 

Pemanfaatan Kapal Small LNG Tanker

Untuk menyalurkan gas dari mini LNG tidak diperlukan kapal tanker berkapasitas besar. Kapal small LNG tanker yang mengangkut gas dari mini LNG dan dapat menempuh jarak sekitar 1.000 mil laut, dengan waktu layar 3-4 hari.

Kapal small LNG tanker berukuran 4 hingga 7 meter, sehingga tidak dibutuhkan kolam sandar yang dalam maupun dermaga berukuran besar. Oleh karena itu, fasilitas penerima tidak memerlukan biaya besar dan dapat dikerjakan dalam waktu relatif singkat. Salah satu kapal small LNG tanker adalah Kapal Sinju Maru dengan kapasitas angkut gas sebesar 2500 cbm yang memilik panjang draft 4,2 m sehingga dapat berlayar di perairan dangkal melalui sungai.

Pembangunan Mini Receiving Facility

Pembangunan Mini LNG untuk Pemerataan Energi di Seluruh Negeri
Mini Receiving Facility
(Sumber: Wartsila)
Sebagai negara kepulauan, diperlukan fasilitas penyimpanan dan transportasi LNG dari mini LNG plant agar LNG dapat mencapai pulau-pulau terluar. Salah satu solusi untuk optimasi penyimpanan dan transportasi LNG dari mini LNG adalah dengan membangun floating facility untuk mini receiving LNG. Fungsi dari mini receiving facility adalah untuk menerima dan menyimpan LNG yang diangkut dari kapal small LNG tanker. Mini receiving facility memiliki 50 MMSCFD sehingga dapat menyuplai gas untuk pembangkit listik berkapasitas di bawah 200 MW.

Pemanfaatan Mini LNG sebagai pasokan LNG untuk PLTD

Tidak hanya dapat digunakan untuk PLTG, LNG dari mini LNG dapat dioptimasi untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga diesel (PLTD) yang telah ada. Cara agar LNG dapat digunakan pada PLTD adalah dengan cara menggunakan teknologi converter kit. Converter kit adalah alat yang ditambahkan untuk mengkonversi sebagian besar penggunaan bahan bakar cair berupa diesel/solar menjadi gas agar mesin penggerak menjadi mesin berbahan bakar ganda (dual fuel engine).

Pembangunan Mini LNG untuk Pemerataan Energi di Seluruh Negeri
Converter Kit
(Sumber: Alibaba.com)

Converter kit memiliki prinsip kerja menghisap gas LNG melalui venturi tube yang dilewatkan oleh udara dan gas LNG untuk kemudian dicampur dengan solar/diesel dan udara terbakar di ruang bakar. Mesin awalnya beroperasi dengan bahan bakar diesel hingga RPM tertentu (±1000 rpm). Pada saat RPM dinaikkan maka kebutuhan udara akan bertambah. Udara tambahan akan masuk melalui venturi yang menghisap gas LNG yang berasal dari LNG fuel tank.

LNG yang berasal dari LNG fuel tank kemudian dilalui dengan heat exchanger untuk menaikkan temperatur dengan bantuan udara kemudian tekanan gas LNG diatur dengan pressure transducer agar sesuai dengan udara yang akan masuk ke dalam venturi sebelum menuju mesin diesel untuk kemudian masuk ke dalam ruang bakar bersama dengan diesel/solar. Bahan bakar minyak berjenis solar masih dapat digunakan sebagai campuran bahan bakar untuk menjaga temperatur ruang bakar, karena temperatur bakar LNG lebih tinggi (645°C) daripada diesel (427°C).

Melibatkan Masyarakat Lokal dalam Pengembangan dan Operasional Mini LNG

Pembangunan Mini LNG untuk Pemerataan Energi di Seluruh Negeri
Pemberdayaan Pekerja Lokal
(Sumber: Republika.co.id)

PGN, Pertamina, PLN, dan pihak-pihak yang terkait dalam proses pembangunan dan operasional mini LNG di daerah terpencil sebaiknya mempekerjakan masyarakat lokal. Alasannya, masyarakat lokal lebih memahami kondisi geografis lingkungan tempat tinggal mereka. Perekrutan tenaga lokal dapat menghemat biaya mendatangkan pekerja. Terakhir, perekrutan tenaga kerja lokal juga mempercepat upaya transfer ilmu dan teknologi dari tenaga ahli dari kota besar kepada masyarakat lokal, dengan begitu, masyarakat lokal akan memiliki kemampuan mumpuni dan tidak bergantung kepada pusat untuk mewujudkan kemandirian energi.

Pengelola juga dapat membuat program CSR yang berkaitan dengan kelestarian lingkungan seperti menanam pohon dan mengolah sampah di sekitar wilayah operasi serta mengadakan pendidikan keterampilan bagi masyarakat seperti pelatihan kewirausahaan di daerah terpencil.

Publikasi Tentang Keberadaan dan Manfaat Mini LNG

Tidak banyak masyarakat Indonesia yang mengetahui keberadaan dan manfaat mini LNG dan PLTG skala kecil. Agar masyarakat Indonesia semakin mengetahui dan mendukung program ini, pemerintah  dalam hal ini Kementerian ESDM harus bekerja sama dengan KOMINFO agar berita mengenai mini LNG dapat menjangkau masyarakat di pelosok Indonesia. Pemerintah dan pihak-pihak terkait juga dapat dengan media/jurnalis untuk mempublikasikan berita-berita positif terkait mini LNG. Terakhir, pemerintah dan pihak-pihak terkait juga dapat menggandeng pemuda, masyarakat, dan influencer untuk membuat vlog, post di media sosial, maupun tulisan blog terkait mini LNG.

Kesimpulan

Pembangunan mini LNG untuk mengolah gas alam ramah lingkungan dan tidak memerlukan biaya besar sehingga tetap menarik dari sisi ekonomi meski harga minyak dunia rendah. Melalui pembangunan mini LNG untuk pembangkit listrik di wilayah terluar di Indonesia, energi listrik dapat disalurkan hingga ke wilayah terpencil, sehingga seluruh lapisan masyarakat memiliki akses energi listrik untuk menunjang kegiatan perekonomian, sehingga taraf hidup masyarakat meningkat, terlebih jika langkah-langkah optimasinya diterapkan.

Dengan demikian, kesenjangan akses energi listrik di wilayah terluar, akan semakin memudar. Kesejahteraan sosial-ekonomi masyarakat Indonesia akan tercapai, sebagaimana yang tertera pada sila ke-5 Pancasila: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.


Referensi:


*****

Artikel ini diikutsertakan dalam Lomba Karya Jurnalistik 2020 kategori Blogger yang diselenggarakan oleh Kementerian ESDM. Tautan artikel ini telah disebarkan melalui akun Quora, twitter, dan Linkedin pribadi milik penulis.

Seluruh sumber foto telah dicantumkan pada masing-masing gambar. Infografis pada tulisan merupakan buatan penulis.

9 Komentar untuk "Pembangunan Mini LNG untuk Pemerataan Energi di Seluruh Negeri"

  1. Balasan
    1. Hahaha, thanks for dropping by

      Semoga ini bisa diterapkan di masa mendatang ya

      Hapus
  2. Boleh kasih masukan? Infrastruktur LNG mini hampir sama dengan Minyak bumi. Menurut saya lebih murah dg membangun generator mini penghasil hidrogen (bahan baku bisa dari air laut dg elektrolisis energi matahari atau angin) pada tiap rumah atau pulau.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hi, Anon. Untuk saat ini saya juga ingin memanfaatkan sumber gas alam yang masih melimpah itu. Untuk bahasan generator hidrogen mungkin saya buat di post selanjutnya. So, stay tune aja

      Hapus
    2. Tambahan lagi, karena most of Pembangkit listrik yg ada selain batubara bahannya diesel, make LNG lebih cocok untuk langsung diterapkan ke PLTD yang sudah ada

      Anyway, jangan salah loh, gas alam juga bisa memproduksi hidrogen sebagai produk samping :)

      Hapus
  3. Bagus mbak artikelnya. Semoga berhasil jadi juara Lomba Karya Jurnalistik

    BalasHapus
  4. Bagus mbak artikelnya. Semoga berhasil jadi juara Lomba Karya Jurnalistik

    BalasHapus
  5. Bagus mbak artikelnya. Semoga berhasil jadi juara Lomba Karya Jurnalistik

    BalasHapus

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel