Pertempuran Alesia

Pengertian Pertempuran Alesia

Pertempuran Alesia

Pertempuran Alesia adalah konflik yang terjadi pada September 52 SM di sekitar Galia oppidum di Alesia yang merupakan pusat kota utama dan kota bukit suku Mandubii, yang terletak di Chaux-des-Crotenay (Jura). Beberapa sejarawan mengatakan bahwa Alesia di puncak Gunung Mont Auxois, dekat Alise-sainte-Reine, Prancis, Akan tetapi lokasi ini tidak sesuai dengan gambaran Caesar mengenai pertempuran tersebut.

Pertempuran ini diikuti tentara Republik Romawi yang dipimpin oleh Julius Caesar yang dibantu oleh komandan kavaleri Marcus Antonius, Titus Labienus dan Gaius Trebonius melawan aliansi suku-suku asli Galia yang bersatu dibawah pimpinan Vercingetorix dari Averna.

Alesia merupakan babak pertempuran utama antara bangsa Galia dan Romawi. Peretempuran Alesia dianggap salah satu pencapaian militer Julis Caesar yang terbaik dan masih merupakan salah satu pengepungan terbaik dalam sejarah peperangan. Setelah menang, Galia ditaklukan dan menjadi Provinsi Romawi.

Latar Belakang Pertempuran Alesia

Julius Caesar telah memasuki wilayah Galia sejak tahun 58 SM. Setelah Julius Caesar menajbat sebagai konsul pada tahun 59 SM, Caesar dilantik sebagai gubernur Cis-Alpine Galia (wilayah antara Alpen, Apennines dan Adriatic) dan Trans-Alpine Galia. 

Pada tahun 54-53 SM, suku Eborenus yang tunduk pada pemerintahan Ambiorik, memberontak menentang penjajahan Romawi dan memusnahkan Legiun XIV dengan serangan kejutan dan dirancang dengan rapi. Hal ini merupakan satu pukulan hebat untuk Caesar dan Galia, karena ia kehilangan seperempat kekuatan militernyasementara evolusi politik di Roma membuatnya tidak dapat meminta bantuan senat diRoma. Pertempuran ini memakan waktu hampir satu tahun, meskipun Caesar berhasil menghanlau kepungan Galia dan mengamankan suku-suku di sana, pemberontakan di Galia tidak berakhir. Suku-suku di Galia menyadari bahwa dengan bersatu, kemerdekaan dapat direbut kembali dari Romawi.

Klimaks Pertempuran Alesia

Pasukan Galia melakukan provokasi dengan membantai orang-orang Romawi yang menetap di Cenabum. Vercingertorix meyakin bahwa Caesar tidak akan melakukan aksi balasan terhadap pembantaian tersebut karena Caesar tengah membangun kekuatan di Cis-Alpine Gaul (Provinsi yang dipimpin oleh Julius Caesar) dan sedang terganggu dengan gejolak di Roma selepas meninggalnya Publius Clodius Pulcher, seorang politisi yang sangat berpengaruh di Roma kala itu.

Dugaan Vercingetorix rupanya salah, karena Julius Caesar datang bersama pasukannya melewati pegunungan Alpen yang saat itu sedang tertutup salju musim dingin. Caesar memecah pasukannya menjadi 4, masing-masing pasukan mengejar targetnya. Sementara itu, Julius Caesar mengejar  pemimpin suku Galia, Vercingetorix.

Selama pasukan bentukkan Julius Caesar mengejar masing-masing targetnya, terjadi beberapa pertempuran kecil serta pengepungan kecil di beberapa tempat dan desa-desa pemukiman Galia. Pasukan Romawi dan Galia akhirnya bertemu di bukit Gergovia. Saat itu, Vercingetorix mendapat posisi di atas bukit, sehingga Caesar hanya menahan serangan besar-besaran untuk menghindari kekalahan total. Beberapa pertempuran kecil terjadi dengan kekalahan besar terjadi pada pihak Vercingetorix.

Akibat kekalahannya tersebut, ia kemudian memilih mundur dan berkumpul di Alesia. Pasukan Caesar mengepung kota Alesia dengan cara membangun perbentengan mengelilingi kota lengkap dengan tower serta jebakan-jebakan yang disebut circumvallation. Akan tetapi, diluar Alesia terdapat sekitar 250.000 pasukan Galia yang masih setia pada Vercingetorix selain 80.000 pasukan yang berada dalam kepungan.
Pertempuran Alesia
Penyerbuan di Contravallation
Atas dasar tersebut, Caesar kemudian memustuskan untuk membangun perbentengan luar yang menjadi pertahanan dari pasukan Galia yang berada di luar kepungan yang disebut contravallation. Baik itu pembangunan circumvallation ataupun contravallation sering kali diganggu oleh pasukan kavaleri Galia, khususnya dari pasukan yang berada diluar kepungan. 

Sebanyak 80.000 pasukan Galia dan penduduk asli mengalami kelaparan hebat, yang menyebabkan mereka berkelahi antar sesama untuk memperebutkan makanan. Di tengah situasi yang semakin kacau, Vercingetorix berusaha membangkitkan kembali semangat pasukannya agar tidak menyerah dan terus berjuang melawan pasukan Caesar. Pasukan Galia dibawah pimpinan Commius tiba pada akhir September dan menyerang pertahanan contravalliation. Dibantu oleh serangan ke pertahanan circumvallation oleh pasukan Vercingetorix.

Serangan hebat Vercingetorix kepada Caesar tidak membuahkan hasil gemilang hingga akhirnya pertempuran ini berhanti pada saat matahari terbenam. Karena penyerbuan tersebut tidak membuahkan hasil, pasukan Galia akhirnya mengubah strategi penyerbuan merek, keesokan harinya, pasukan Galia menyerbu contravallation pada malam hari. Serbuan mendadak pada malam hari ini menyebabkan pasukan Romawi tidak siaga dan akhirnya kewalahan.

Meski demikian, penyerbuan malam itu di contravallation berhasil diredam oleh komandan kavaleri saat itu, Marcus Antonius dan Gaius Trebonius. Sementara itu, serangan dari dalam berhasil diredam dengan parit-parit yang dibuat tentara Romawi sehingga menggagalkan rencana serangan kejutan oleh Vercingetorix. Kedua serangan tersebut berhasil membuat posisi pasukan Romawi menjadi terpojok sehingga pasukan Romawi menjadi kekurangan supply. Akibatnya, pasukan romawi pun terancam kelelahan.

Keesokan harinya, sepupu Vercingetorix, Vercassivellaunus mengerahkan 60.000 pasukan untuk menyerbu titik terlemah pasukan Romawi. Meski serbuan tersebut hampir merobohkan pertahanan Romawi, akan tetapi kedisiplinan tentara Romawi tetap terjaga. Julis Caesar selalu berpatroli disekitar pertempuran untuk menyemangati pasukan Romawi. Pasukan Kavaleri Gaius Labienus juga dikerahkan sebagai pasukan pendukung.

Tidak hanya itu, Julius Caesar juga maju dengan membawa 13 cohort kavaleri maju dan menyerbu pasukan Galia dari belakang. Tindakan berani Caesar untuk mengambil resiko dengan terjun langsung ke pertempuran membuat semangat pasukan Romawi naik drastis, disamping terkejutnya pasukan Galia yang kemudian kocar-kacir dan menjadi santapan pasukan Romawi. Untungnya, pasukan Caesar saat itu tengah kelelahan, sehingga tidak terlalu gencar melakukan perburuan pasukan yang kocar-kacir.
Pertempuran Alesia
Vercingetorix menyerah kepada Caesar
Vercingetorix menyaksikan kekalahan besar pasukannya, baik di dalam maupun di luar kepungan, ditambah kelaparan yang semakin parah dan moral pasukan yang semakin rendah. Melihat hal tersebut, Vercingetorix akhirnya memutuskan untuk menyerah. Kejayaan Caesar ini kelak mejadi penyebab meletusnya perang saudara Romawi yang mengawali berdirinya Kekaisaran Romawi. Perang saudara disebabkan oleh penolakan terhadap penghormatan berupa arak-arakan triumvirat yang merupakan penghargaan tertinggi bagi jenderal perang Romawi.

Pertempuran Alesia dalam Budaya Populer

Pertempuran Alesia
Asterix: Perisai dari Averna, yang mengacu pada pertempuran Alesia
Pertempuran Alesia juga kerap digambarkan dalam budaya populer, seperti novel, komik, lagu, dll. Salah satu komik yang mengacu pada pertempuran Alesia adalah Asterix episode "Perisai dari Averna" (The Chieftain's Shield). Di sana, diceritakan bahwa Asterix dan Obelix yang tengah mengantar kepala desa mereka untuk berobat, mereka menemui orang-orang Galia diperjalanan yang merasa kecewa setiap kali Asterix menanyakan tentang Alesia.

Referensi:
https://www.cs.mcgill.ca/~rwest/wikispeedia/wpcd/wp/b/Battle_of_Alesia.htm
http://www.arsbellica.it/pagine/antica/Alesia/alesia_eng.html
http://www.unrv.com/fall-republic/siege-of-alesia.php

Belum ada Komentar untuk "Pertempuran Alesia"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel