Perang Teluk

Perang Teluk


Perang Teluk merupakan salah satu perang yang paling berpengaruh dalam sejarah. Perang ini juga sering disebut sebagai Perang Teluk Persia disebabkan karena perebutan hegemoni sebagai penguasa di kawasan Teluk Persia. Perang Teluk melibatkan Irak yang bertempur melawan pasukan koalisi 34 negara yang bertempur atas mandat PBB.

Latar Belakang Perang Teluk

Irak terlibat perang dengan Iran pada tahun 1980 - 1988. Perang antara Irak dan Iran membawa dampak perekonomian yang besar bagi Irak. Banyak fasilitas penting Irak rusak parah, yang menyebabkan Irak harus meminjam uang dalam jumlah besar kepada negara-negara Arab lainnya untuk memberbaiki fasilitas tersebut dan membeli. Kejadian ini diperparah dengan jatuhnya harga minyak, yang merupakan sektor andalan Irak, yang semakin melumpuhkan perekonomian Irak.

Perang Teluk


Kuwait merupakan salah satu negara Arab teluk yang menjadi sumber dana pinjaman Irak. Awalnya Irak membujuk Kuwait agar bersedia memutihkan utang-utangnya, akan tetapi Kuwait menolak. Penolakan tersebut memicu kemarahan presiden Irak, Saddam Hussein kepada Kuwait. Saddam menudu sengaja bahwa Kuwait sengaja memanipulasi harga minyak dunia untuk menghancurkan perekonomian Irak. Saddam juga menuduh bahwa Kuwait mencuri cadangan minyak di Rumaila, Irak dengan melakukan pengeboran terarah (directional drilling) di dekat perbatasan kedua negara tersebut.

Selain masalah ekonomi, konflik antara Irak dan Kuwait juga disebabkan oleh faktor historis dan sentimen masa lalu. Saddam Hussein beranggapan bahwa, ketika Irak dan Kuwait masih menjadi bagian Kesultanan Ottoman, kedua wilayah tersebut menyatu sebagai Provinsi Basra. Akan tetapi, setelah Kesultanan Ottoman runtuh setelah kalah perang dunia I, Inggris yang memenangkan perang lalu menjadikan Kuwait sebagai negara merdeka yang terpisah dari Basra. Klaim sejarah tersebut kemudian dijadikan pembenaran oleh Irak untuk menduduki wilayah Kuwait.

Perang Teluk: Irak vs Kuwait

Perang Teluk dimulai dengan serangan pasukan Irak terhadap Kuwait. Pasukan Irak melakukan serangan besar-besaran ke Kuwait melalui darat dan udara pada 2 Agustus 1990. Karena pasuka Kuwait kalah dalam jumlah dan kekuatan alusista, seluruh wilayah Kuwait berhasil ditaklukkan oleh pasukan Irak hanya dalam waktu dua (2) hari saja. Meskipun demikian, pasukan Irak tidak sampai membantai para pejabat Kuwait di ibu kota, karena para pejabat Kuwait telah mengungsi ke Arab Saudi.

Setelah Kuwait jatuh ke tangan Irak, Saddam Hussein menjadikan Kuwait sebagai provinsi baru, sebagaimana kedudukannya di masa Kesultanan ottoman dulu. Saddam Hussein juga menunjuk sepupunya sebagai gubernur Kuwait. 

Tidak berhenti sampai di situ, Saddam Hussein memerintahkan bawahannya untuk membakar ladang-ladang minyak di Kuwait, yang mengakibatkan polusi dan kebakaran besar.

Reaksi PBB dan Kelanjutan Perang Teluk

PBB menjatuhkan sanksi ekonomi dan embargo kepada Irak sambil meminta Irak untuk segera menarik mundur pasukannya dari wilayah Kuwait. Akan tetapi, perintah dari PBB tersebut tidak diindahkan oleh Irak.

Karena berada dalam posisi terpojok dalam Perang Teluk, Kuwait meminta bantuan Amerika Serikat tanggal 7 Agustus 1990. Amerika Serikat mengirimkan bantuan pasukannya ke Arab Saudi yang disusul negara-negara lain. 

Perang Teluk


Terdapat 34 negara yang akhirnya bergabung dengan Amerika Serikat dan mengirimkan personil militernya untuk bergabung ke dalam pasukan koalisi anti-Irak. 34 negara tersebut adalah Amerika Serikat, Arab Saudi, Argentina, Australia, Bahrain, Bangladesh, Belanda, Belgia, Canada, Cekoslovakia, Denmark, Perancis, Hongaria, Inggris, Italia, Korea Selatan, Kuwait, Maroko, Mesir, New Zealand, Niger, Norwegia, Oman, Pakistan, Polandia, Portugal, Qatar, Senegal, Spanyol, Swedia, Suriah, Turki, Uni Emirat Arab, dan Yunani.  Pasukan Amerika Serikat dan Eropa bersatu di bawah komando gabungan yang dipimpin Jenderal Norman Schwarzkopf dan Jenderal Collin Powell. Sementara itu, pasukan negara-negara Arab dipimpin oleh Letjen. Khalid bin Sultan.

Presiden Amerika Serikat George H. Bush diizinkan menyatakan perang kepada Irak oleh Kongres Amerika Serikat tanggal 12 Januari 1991. Perang tersebut dikenal dengan nama "Operasi Badai Gurun". Operasi Badai Gurun dimulai tanggal 17 Januari 1991 pukul 03:00 yang diawali serangan serangan udara besar-besaran atas Bagdad dan beberapa wilayah Irak lainnya.

Target utama koalisi adalah untuk menghancurkan kekuatan Angkatan Udara Irak dan pertahanan udara, yang diluncurkan dari Arab Saudi dan kekuatan kapal induk koalisi di Laut Merah dan Teluk Persia. Target berikutnya adalah pusat komando dan komunikasi. Saddam Hussein merupakan titik sentral komando Irak, dan inisiatif di level bawah tidak diperbolehkan. Koalisi berharap jika komando utama berhasil dilumpuhkan, semangat dan koordinasi tempur Irak akan langsung merosot. Target ketiga dan yang paling utama adalah instalasi rudal jelajah, terutama rudal Scud. Operasi pencarian rudal ini juga didukung oleh pasukan komando Amerika dan Inggris yang mengadakan operasi rahasia di daratan untuk mencari, dan bila perlu, menghancurkan instalasi rudal tersebut. serta operasi di daratan yang mengakibatkan perang darat yang dimulai tanggal 30 Januari 1991.

Sehari kemudian, Irak merespon serangan udara tersebut dengan meluncurkan 8 misil raksasa Scud ke wilayah Tel Aviv dan Haifa, Israel. Irak berharap Israel akan membalas serangan Irak sehingga negara-negara Arab yang menjadi anggota pasukan koalisi akan terpancing untuk berbalik membantu Irak menggempur Israel. Israel ternyata sama sekalo tidak membalas serangan Irak setelah diperingati oleh Amerika Serikat. Untuk mencegah Irak kembali meluncurkan Scud ke wilayah Israel dan negara-negara Jazirah Arab, pasukan koalisi juga diperintahkan untuk melacak setiap kendaraan pengangkut Scud yang disamarkan. 

Tidak hanya melakukan serangan ke Israel, Irak juga menyerang pangkalan militer Arab Saudi di Dhahran dengan serangan rudal bernama Al Hussein. Koalisi akhirnya memasang rudal penangkis, bernama Patriot, serta memaksimalkan sorti udara untuk memburu rudal-rudal tersebut sebelum diluncurkan untuk menangkal ancaman rudal tipe Scud itu. 

Irak juga melakukan perang lingkungan dengan membakar sumur sumur minyak di Kuwait dan menumpahkan 400 juta gallon minyak mentah ke Teluk Persia. Irak melakukannya agar pasukan koalisi tidak bisa mendarat di Teluk Persia untuk menduduki Irak.

4 hari setelahnya, perang akhirnya merambat ke Arab Saudi setelah pasukan Irak menaklukkan kota pantai Khafji, Arab Saudi. Namun kota tersebut berhasil direbut kembali oleh pasukan Arab Saudi & sekutunya 2 hari kemudian lewat kombinasi serangan darat dan udara. Pada pertempuran di Khafi, Amerika Serikat kehilangan 1 pesawat tempurnya akibat ditembak jatuh oleh misil anti-udara Irak.

Pasukan koalisi yang awalnya lebih banyak melakukan serangan udara mengubah pola serangannya. Pada tanggal 24 Februari, pasukan koalisi melakukan serangan darat besar-besaran dari arah timur laut Arab Saudi menuju Kuwait dan Irak selatan. Saat itu kekuatan pasukan Irak sudah sangat lemah akibat serangan udara besar-besaran sejak 1 bulan sebelumnya, pasukan koalisi hanya memerlukan waktu singkat untuk menguasai Kuwait. Pada tanggal 27 Februari 1991 pasukan koalisi berhasil membebaskan Kuwait dan Presiden George Bush menyatakan gencatan senjata. gencatan senjata yang diumumkan Bush akan diberlakukan resmi. Perang Teluk berakhir dengan kemenangan pasukan koalisi.

Pasca Perang Teluk

Karena Irak menginvasi Kuwait dengan menggunakan senjata kimia, PBB menjatuhkan embargo perdagangan total kepada Irak, kecuali untuk komoditas vital seperti makanan dan obat-obatan. PBB juga mengutus tim khusus untuk melakukan pelucutan dan penghancuran stok senjata kimia milik Irak. 

Sebenarnya PPB berencana untuk meringankan beberapa sanksi yang ditimpakan pada Irak, akan tetapi PBB tetap memberlakukan larangan penjualan minyak bumi milik Irak. Larangan penjualan minyak bumi akan terus berlanjut sampai Irak menghancurkan seluruh senjata pemusnah massal di bawah pengawasan PBB.

Melemahnya kekuatan militer Irak pasca Perang Teluk sempat dimanfaatkan oleh masyarakat minoritas Irak untuk memberontak. Di Irak utara, pemberontakan dilakukan oleh etnis minoritas Kurdi. Sementara di selatan, pemberontakan dilakukan oleh ekstrimis Muslim Syiah. Kedua pemberontakan tersebut sama-sama berakhir dengan kegagalan akibat persenjataan yang mereka miliki tidak memadai dan respon cepat dari militer Irak. Pasca pemberontakan, jutaan etnis Kurdi mengungsi meninggalkan Irak utara dan pemerintah Irak merelokasi paksa penduduk Irak selatan.

Perang Teluk


Perang Teluk juga membawa dampak besar bagi lingkungan. Tindakan militer Irak menumpahkan minyak mentah dalam jumlah besar ke laut merusak ekosistem air. Selain menimbulkan kebakaran besar, tumpahan minyak di Teluk Persia.

Referensi:

2 Komentar untuk "Perang Teluk"

  1. Bukannya Etnis Kurdi memberontak terhadap Pemerintah Irak itu karena di tindas ya ?

    BalasHapus
  2. Iya, karena ditindas dan perpecahan pasca perang teluj

    BalasHapus

PopCash

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel