Pembantaian Banyuwangi 1998

Pembantaian Banyuwangi 1998

Ilmu Hitam di Mata Masyarakat Banyuwangi

Ilmu hitam, termasuk di dalamnya, pelet dan santet, merupakan hal yang dianggap lumrah bagi masyarakat wilayah Pandalungan/Tapal Kuda, Jawa Timur. Daerah-daerah tapal kuda khususnya Banyuwangi yang mayoritas warganya beretnis Osing/Using, menurut, Hasan Ali, penggiat budaya Banyuwangi, menganggap bahwa ilmu hitam, termasuk santet adalah realita. Hal ini menunjukkan bahwa keberadaannya sangat diyakini oleh masyarakat Banyuwangi.

Diawali dengan Pembantaian Dukun Santet pada 1996


Peristiwa pembantaian dukun santet pada 1998, sebenarnya diawal dengan peristiwa serupa yang terjadi pada pertengahan tahun 1996. Peristiwa yang terjadi pada tahun 1996 itu, memakan korban sebanyak 30 orang, yang diduga merupakan dukun santet.

Pembantaian Dukun Santet oleh "Ninja" pada 1998

Pada Februari 1998 terjadi pembunuhan awal dukun-dukun santet ini. Pada kasus pembunuhan pertama tersebut, banyak orang yang menganggapnya sebagai sesuatu yang biasa dan tidak akan menimbulkan dampak yang meluas. Rupanya, dugaan banyak orang melest, pembantaian ini terus berlangsung hingga mencapai puncaknya pada Agustus dan September 1998. Pembunuh dalam peristiwa ini adalah warga-warga sipil dan oknum asing yang disebut ninja. pada kejadian ini, setelah dilakukan pendataan korban, ternyata banyak di antara para korban bukan merupakan dukun santet. Korban-korban yang berjatuhan bukan hanya dukun santet, melainkan juga guru mengaji, dukun suwuk (tabib penyembuh) serta tokoh-tokoh masyarakat seperti ketua RT atau RW.

Sebenarnya, pada 6 Februari 1998, Bupati Banyuwangi saat itu Kolonel Polisi (Purn) HT. Purnomo Sidik mengeluarkan radiogram yang ditujukan untuk seluruh jajaran aparat pemerintahan dari camat hingga kepala desa untuk mendata orang-orang yang diduga merupaka dukun yang menjalani praktik santen, untuk selanjutnya melakukan pengamanan dan perlindungan terhadap orang-orang tersebut. 

Berdasarkan laporan Jason Brown dalam Perdukunan, Paranormal, dan Peristiwa Pembantaian (Teror Maut di Banyuwangi, 1998, hlm. 51) , pada bulan September 1998, Bupati Banyuwangi kembali mengeluarkan instruksi kepada seluruh Camat untuk mendata paranormal, dukun pengobatan tradisional, dan tukang sihir agar memudahkan penanganan jika terjadi kasus serupa. Sayangnya, daftar yang dibuat oleh para Kepala Desa atas instruksi Camat sebagai perintah Bupati tersebut kemudian bocor dan berubah menjadi daftar target pembunuhan.

Setelah pendataan kedua dilakukan, dalam sehari terdapat 2-9 orang yang terbunuh. Akibatnya, masyarakat berasumsi bahwa radiogram bupati tersebut adalah penyebab dari pembantaian dan radiogram yang berisi perintah pengamanan tersebut adalah alibi pemerintah untuk memberantas tokoh-tokoh yang memiliki ideologi yang berlawanan dengan pemerintah. 

Sementara itu, menurut ulama Kabupaten Banyuwangi, tindakan aparat daerah tersebut dianggap kurang tersembunyi sehingga informasi mengenai orang-orang tersebut bocor ke pihak massa pembantai yang menyebabkan banyak orang kehilangan nyawa sesaat setelah melapor ke aparat desa.

Ada juga pihak yang menganggap bahwa pendataan dukun santet yang dilakukan oleh aparat daerah merupakan operasi institusi yang menggunakan modus ‘Pancing Jaring’, yaitu membuat pancingan untuk membuka data, untuk melakukan eksekusi terhadap target yang telah didata.

Kejadian-kejadian Aneh Saat Pembantaian Banyuwangi 1998

Pada masa pembantaian, muncul sosok yang disebut ninja. Ninja tersebut memakai pakaian serba hitam, bertopeng, dan membawa handy-talky ketika beroperasi. Terdapat dua pendapat mengenai bagaimana wujud ninja yang sebenarnya. Ada yang menyebutkan bahwa ninja tersebut adalah orang biasa berkostum hitam dan membawa senjata, sedangkan yang lain mengatakan bahwa sosok ninja yang mereka lihat adalah seperti ninja di Jepang dan mampu bergerak ringan melompat dari sisi ke sisi yang tidak akan bisa dilakukan oleh manusia biasa. Mereka sangat terlatih, cekatan, dan sistematis. 

Ketika ninja tengah beroperasi, terdapat kejadian aneh. Listrik di wilayah yang didatangai ninja tiba-tiba mati dan sesaat kemudian terdapat seseorang yang sudah meninggal karena dibunuh. Mayat korban pembantaian ditemukan dalam keadaan mengenaskan, seperti tubuh terpotong-potong, patah tulang hingga kepala pecah. Ada juga korban tewas yang menyisakan bekas sabetan senjata tajam atau luka bakar.

Tidak hanya munculnya ninja, ada kejadian aneh lainnya yang terjadi saat pembantaian ini. Di Banyuwangi, tiba-tiba banyak orang gila yang muncul di berbagai tempat. Anehnya, para orang gila ini mampu menjawab pertanyaan penanya dengan baik, tetapi ketika ditanya mengenai asal usulnya, mereka akan bertingkah seperti orang gila dengan menjawab tidak nyambung atau berteriak-teriak. Hal ini menimbulkan spekulasi bahwa orang-orang gila ini terlibat dalam peristiwa pembantaian. Dugaan tersebut semakin diperkuat dengan menghilangnya orang-orang gila tersebut tanpa adanya penertiban oleh pihak berwenang ketika pembantaian mulai mereda.

Menelan Korban Jiwa dan Merebak ke Daerah Lain

Pembantaian Banyuwangi 1998 telah menimbulkan korban jiwa lebih dari 200 orang. Korban pembantaian tersebut diduga merupakan dukun yang kerap melakukan ilmu santet atau ilmu hitam. Kejadian ini kemudian merebak di berbagai daerah selain Banyuwangi seperti, Jember, Pamekasan, Sumenep, Lumajang, hingga Pangandaran.

Dalang, Motif, dan Investigasi Pembantaian Banyuwangi 1998


Siapa sebenarnya dalang dari peristiwa “Dukun Santet” dan “Ninja” di Banyuwangi ini belum diketahui hingga saat ini. Akan tetapi, berdasarkan disertasi yang dipertahankan oleh Sukidin di Universitas Airlangga, Sukidin menyebut bahwa terdapat empat hal yang diperkirakan merupakan sebab utama di balik kejadian pembantaian di Banyuwangi yang berlangsung pada 1998. Keempat motif tersebut adalah: (1) motif dendam sosial, (2) motif iri hati dan fitnah, (3) modus massa terorganisir, dan (4) modus pembunuhan massa spontan. Hipotetis mengenai motif-motif tersebut setelah Sukidin menggali informasi dari beberapa sumber terpercaya.

Banyak media yang meliput peristiwa itu dan mempopulerkan istilahy “ninja” dalam judul beritanya. Akhirnya, masyarakat semakin dilanda ketakutan. Banyak korban yang berjatuhan akibat kasus main hakim sendiri dan isu “ninja” yang terus digulirkan menyita perhatian berbagai media nasional. 

Karena trauma pada kehadiran ninja, masyarakat Jawa Timur mencurigai setiap pendatang asing. Di Malang, 24 Oktober pernah terjadi kasus mengerikan tepatnya di Kecamatan Godanglegi. Pada hari itu, ada lima orang asing yang datang ke kecamatan itu. Karena mereka dicurigai ninja, akhirnya lima orang itu dihabisi massa. Di antara kelimanya, ada yang dibakar, dipenggal, dan lalu diarak mengelilingi kota. Padahal, kelima orang itu identitas sebenarnya belum diketahui.

Beberapa penyelidikan pernah dilakukan untuk mengungkap kronologi, dalang, dan motif dibalik peristiwa pembantaian ini. Penyelidikan telah dilakukan oleh berbagai kalangan, mulai dari mahasiswa datang untuk melakukan penelitian hingga Menteri Pertahanan dan Panglima Angkatan Bersenjata saat itu, Jenderal Wiranto. Mereka datang ke Banyuwangi untuk melakukan dan mengawasi penyelidikan. Pada akhir Oktober 1998, Polri akhirnya membentuk Tim Anti-Ninja. 

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) pada saat itu juga telah membentuk tim untuk menyelidiki dan telah mengumumkan pernyataan bahwa terdapat indikasi pelanggaran HAM berat pada kasus ini. Akan tetapi, kurangnya keseriusan, akhirnya penyelidikan dihentikan.

Kemudian, jika narasi dari Jason Brown tersebut akurat, maka modus operasi semacam ini sangat mirip dengan operasi gelap terorganisir yang biasanya dieksekusi oleh institusi pemilik otoritas, semacam fenomena ‘Penembak Misterius’ alias Petrus, yang sempat terjadi pada pertengahan 1980-an sampai awal 1990-an. 

Selain itu, ada beberapa rumor yang datang dari Gus Dur sendiri, atau dari investigasi Komnas HAM, yang menyebutkan label ‘Operasi Naga Hijau’, yang mengindikasikan skenario level nasional untuk menggoyang koalisi antara Gus Dur (santri) dengan Megawati (nasionalis-abangan), terkait dengan suksesi nasional pasca Soeharto yang diambil alih oleh Habibie.

Tim dari Nahdlatul Ulama (NU) pada Desember 2007, membuka kembali investigasi kasus ini dengan memberikan pengaduan kepada Komnas HAM dengan maksud agar peristiwa tersebut bisa diusut tuntas, dalang-dalangnya bisa diseret ke pengadilan dan keluarga korban yang tertuduh sebagai dukun santet dapat dibersihkan nama baiknya. Akan tetapi, hal ini terkendala dari keluarga korban yang sudah tidak ingin jika kasus ini dibuka lagi. Keluarga korban hanya meminta rehabilitasi atas kejadian tersebut dan tidak menginginkan aktor-aktor dari peristiwa ini diadili.

Kepolisian Banyuwangi juga tidak mau mengungkap identitas pelaku. Padahal, Kepolisian Banyuwangi pernah menangkap 76 tersangka. Dari 76  tersangka, 11 di antaranya dipastikan sebagai pelaku utama, enam penyandang dana dan sisanya adalah pelaku yang hanya ikut ramai-ramai membantai dukun santet.

Referensi:
https://id.wikipedia.org/wiki/Pembantaian_Banyuwangi_1998
https://tirto.id/pembantaian-dukun-santet-operasi-naga-hijau-teror-kepada-nu-cE5V
https://kbr.id/hermawan/03-2015/menelusuri_sejarah_kelam_pembantaian_dukun_santet_/69092.html
http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/200660.stm
http://news.bbc.co.uk/2/hi/asia-pacific/192455.stm

Belum ada Komentar untuk "Pembantaian Banyuwangi 1998"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel