Sejarah Minyak Bumi di Indonesia

Offshore oil platform

Sejarah minyak bumi di Indonesia diawali dengan penemuan sumur minyak bumi pertama di Indonesia pada masa kolonial Belanda. Sejarah minyak bumi di Indonesia kemudian berlanjut pada proses awal ekspor minyak bumi mentah, pembangunan kilang minyak pertama untuk mengolah minyak bumi mentah, berdirinya perusahaan minyak bumi milik negara atau yang dikenal dengan nama Pertamina, hingga didirikannya SKK Migas.

Penemuan Sumur Minyak Pertama di Indonesia

Sumur minyak pertama di Indonesia
Lokasi Eksplorasi Minyak Pertama di Indonesia di  Majalengka


Sumur minyak pertama di Indonesia ditemukan di Jawa Barat pada 1871 oleh seorang pedagang Belanda bernama Jan Reerink. Ia menemukan adanya rembesan minyak di Majalengka, dekat lereng Gunung Ciremai, Cirebon, Jawa Barat. Minyak tersebut merembes dari lapisan batuan tersier yang naik ke permukaan. Berdasarkan temuan itu, ia lalu melakukan pengeboran minyak pertama di Indonesia dengan menggunakan pompa yang digerakkan oleh sapi. Total sumur yang dibor sebanyak empat sumur, dan menghasilkan 6000 liter minyak bumi. Sumur ini dianggap sebagai sumur yang memproduksi minyak bumi pertama di Indonesia.


Pengeboran ini berlangsung hanya berselang dua belas tahun setelah pengeboran minyak pertama di dunia yang dilakukan oleh Kolonel Edwin L. Drake dan William Smith de Titusville pada 1859, di Pennsylvania, Amerika Serikat. Jadi, pengeboran minyak bumi di Hindia Belanda merupakan salah satu pengeboran minyak bumi yang tertua di dunia. 

Reerink juga melakukan pengeboran di Panais, Majalengka, Cipinang dan Palimanan, dengan mengunakan pompa bertenaga uap yang didatangkan dari Canada, pengeboran ini menghasilkan minyak yang sangat kental dan disertai dengan air panas yang memancur setinggi 15 meter. Pada 1876 permohonan pinjaman modalnya ditolak oleh NV Nederlandsche Handel Maatschappij (NHM), sehingga akhirnya ia memutuskan menutup sumur-sumur tersebut.

Penemuan Sumur Minyak di Sumatera Timur dan Ekspor Minyak Bumi Pertama di Indonesia

Pengeboran minyak Sumatera Timur
Pengeboran Minyak di Pangkalan Brandan, Sumatera Timur
Sumur minyak lainnya yang pertama kali ditemukan di Indonesia adalah Telaga Tunggal 1 yang terletak di kabupaten Langkat Sumatera Utara merupakan sumur minyak pertama yang ditemukan di Indonesia. Sumur minyak bumi pertama di Indonesia itu ditemukan oleh Aeilko Jans Zijker, pada 1880. Ia adalah seorang ahli perkebunan tembakau yang bekerja di Deli Tobacco Maatschappij, ia baru saja pindah ke Sumatera Timur.

Zijker menemukan sumur minyak pertama di Indonesia ini ketika menemukan genangan air  bercampur minyak saat melakukan inspeksi. Sampel minyak dan batuan dari daerah tersebut kemudian dibawa ke Batavia  (Jakarta) untuk dianalisis. Setelah dianalisis, daerah tersebut memiliki kandungan  minyak sebesar 59 persen.  Pada 1882, Zijker, kemablo ke Belanda, mencari dan mengumpulkan dana dari rekan-rekannya untuk kebutuhan kegiatan eksplorasi minyak di Langkat.

Pada tahun 1882 Zijker mencari dana ke Belanda untuk melanjutkan eksplorasi minyak tersebut. Kemudian pada 1883, Zijker memperoleh konsesidi Telaga Said, Langkat seluas 500 bahu (3.5 km persegi) dari Sultan Langkat. Lapangan itu ia temukan pada saat inspeksi dan menemukan genangan yang tercampuri minyak bumi. Setahun kemudian, Zijker mulai mengebor sumur pertama, yang berakhir gagal. Minyak bumi berhasil ditemukan pada kedalaman 22 m pada 1884 dengan sumber utamanya terletak pada kedalaman 120 m, sumur minyak bumi kedua ini kemudian diberi nama Telaga Tunggal 1.

Perusahaan Minyak Pertama di Indonesia

Setelah penemuan minyak bumi di Sumatera Timur, sejarah minyak bumi di Indonesia berlanjut. Tahun 1890 Zijker mengalihkan konsesinya ke NV Koninklijke Nederlandsche Petroleum Maatschappij (KNPM). De Gelder menjadi pimpinan KNPM setelah Zijker meninggal dunia. Ia berkantor di Pangkalan Brandan. Untuk mengintegrasikan kegiatan pengeboran minyak bumi, fasilitas produksi hilir minyak bumi berupa kilang minyak dibangun pada 1892 di Pangkalan Brandan. Pada 1898, tangki-tangki penyimpanan dan fasilitas pelabuhan dibangun di Pangkalan Susu. Minyak mentah yang dihasilkan dapat diolah terlebih dahulu sebelum dikapalkan. Pelabuhan Pangkalan Susu merupakan pelabuhan ekspor minyak bumi pertama di Indonesia.

Kilang Minyak Pertama di Indonesia

Kilang Minyak Wonokromo
Kilang Minyak Wonokromo

Kilang minyak pertama di Indonesia terletak di Wonokromo, Jawa Timur. Kilang ini dibangun pada tahun 1889 setelah ditemukan minyak di wilayah konsesi Jabakota dekat Surabaya oleh De Dordtsche Petroleum Maatschappij. Hasil produksi kilang Wonokromo mencapai  satu “cikar” sehari atau setara 8000 peti per tahun (pada saat itu, satuan barrel belum digunakan secara meluas untuk menghitung volume minyak bumi).

Shell, membangun kilang di Balikpapan tahun 1891 untuk mengolah minyak dari Sanga-Sanga.  Perusahaan lain, NKPM (Nederlandsche Kolonial Petroleum Maatschappij),  membangun Kilang Sungai Gerong, Palembang, untuk mengolah minyak dari Talang Akar, yang berseberangan dengan kilang Shell di Plaju.

Sebelum pecah Perang Dunia II di Asia, Kilang Sungai Gerong adalah salah satu kilang besar di Asia Timur. Mulai beroperasi Mei 1926, terdiri atas 6 unit Shell Still, 2 unit Cracking Coil, dan 1 unit Treating.

Masuknya Berbagai Perusahaan Minyak di Indonesia

Shell
Shell

Undang-undang pertambangan (Indische Mijnwet) diterbitkan pada tahun 1899. Terbitnya undang-undang tersebut mendorong banyak perusahaan minyak bumi multinasional untuk berinvestasi di Hindia Belanda. Pihak swasta diperbolehkan untuk terlibat di dalam pengusahaan minyak bumi di Hindia Belanda, pada undang-undang ini, meski sebelumnya pemerintah kolonial melarang keterlibatan pihak swasta.

Pada awal abad 20, telah masuk 18 perusahaan swasta asing di Hindia Belanda. Untuk menandingi perusahaan Amerika Serikat setelah berlakunya Indische Mijnwet, pemerintah Belanda mendirikan perusahaan gabungan antara pemerintah dengan BPM, yaitu NV Nederlandsch Indische Aardolie Maatschappij (NIAM). Perusahaan ini kemudian berubah jadi Permindo, cikal bakal Pertamina.

Pada masa itu, ada dua perusahaan besar yang merupakan pemain utama dalam penambangan minyak, yaitu KNPM dan Shell. KNPM bergerak di bidang eksplorasi, produksi dan pengilangan. Sementara Shell, perusahaan Belanda lainnya, bergerak di bidang usaha transportasi dan pemasaran. Shell awalnya hanya merupakan perusahaan yang menjual kulit kerang (shell) di kota London. Komoditas pertamanya inilah yang kemudian dijadikan logo perusahaan sampai sekarang. 

Kedua perusahaan besar tersebut kemudian merger pada tahun 1907 menjadi Royal Dutch-Shell Group, yang kemudian dikenal dengan Shell. Pada tahun 1907, Royal Dutch dari Belanda memiliki 60% saham sementara itu, Shell dari Inggris memiliki 40% saham. Setelah itu De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) dibentuk untuk membawahi produksi dan pengilangan. Anglo Saxon Petroleum Coy juga dibentuk untuk transportasi dan pemasaran.

Sementara itu, perusahaan swasta pertama, datang ke Hindia Belanda pada tahun 1912 adalah Standard Oil of New Jersey (SONJ). Mereka lalu mendirikan anak perusahaan bernama NV Nederlandsche Koloniale Petroleum Maatschappij (NKPM). Tahun 1914, NKPM menemukan ladang Talang Akar di Sumatra Selatan, yang berkembang menjadi ladang minyak terbesar yang ditemukan sebelum Perang Dunia II.

Industri Perminyakan Indonesia Pasca Kemerdekaan

Pasca kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, Indonesia mulai melakukan pengambilalihan sumber-sumber minyak peninggalan Belanda. Lapangan minyak eks konsesi BPM di Pangkalan Brandan, Sumatra Utara diserahkan dari pihak Jepang kepada pihak Indonesia pada September 1945. Pemerintah RI kemudian membentuk Perusahaan Tambang Minyak Negara (PTMN) untuk mengelola minyak bumi di Indonesia.

Setelah pengakuan kedaulatan Indonesia pada oleh Belanda pada 27 Desember 1949, Pemerintah RIS (Republik Indonesia Serikat) tetap memberikan hak pengelolaan sumur-sumur minyak kepada perusahaan asing yang telah mengelola minyak bumi di Indonesia, seperti BPM, Caltex, Stanvac, Shell, dll. Pada tahun 1951 PTMN diambil alih oleh pemerintah Indonesia dan diubah namanya menjadi PN Permigan (Perusahaan Minyak dan Gas Negara).

Pada tahun 1952 ladang minyak Minas yang dikelola Caltex mulai mengekspor minyak bumi ke luar negeri. Seiring dengan nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing, KSAD (Kepala Staf Angkatan Darat) Jenderal Abdul Harris Nasution, menugaskan Kolonel dr. Ibnu Sutowo untuk membentuk perusahaan minyak negara. Pada 10 Desember 1957 dibentuklah Perusahaan Tambang Minyak Negara (PERMINA) berdasarkan Keputusan Menteri Kehakiman RI no. JA.5/32/11 tertanggal 3 April 1958. Ibnu Sutowo ditunjuk sebagai Direktur Utama Permina. 

Permina mulai mengekspor minyak mentah untuk pertama kalinya pada 30 Juni 1958. Permina bekerja sama dengan perusahaan minyak Jepang, NOSODECO, dimana Permina mendapat pinjaman modal yang dibayarkan dengan minyak mentah. Pada 1960, PT Permina berubah status menjadi Perusahaan Negara dengan nama PN Permina.

Sistem kontrak bagi hasil (production sharing contract/PSC), yang menyatakan bahwa seluruh wilayah Indonesia merupakan daerah konsesi PN Permina. Perusahaan minyak asing hanya dapat beroperasi sebagai kontraktor dengan sistem bagi hasil produksi minyak, tidaklagi dengan membayar royalti. Sejak PSC diberlakukan, eksplorasi besar-besaran dilakukan baik di darat maupun di laut oleh PN Permina bersama dengan kontraktor asing.

Berdirinya Pertamina

Pada 10 Desember 1957, perusahaan tersebut berubah nama menjadi PT Perusahaan Minyak Nasional, (PERMINA). Pada 1960, PT Permina berubah status menjadi Perusahaan Negara (PN) Permina. Pada tahun 1970, PT Permina berubah nama menjadi PERTAMINA.

Berdasarkan PP No.31 Tahun 2003 tanggal 18 Juni 2003, Pertamina berubah nama menjadi PT Pertamina (Persero) yang bertugas mengelola kegiatan usaha minyak bumi dan gas alam pada sektor hulu hingga sektor hilir di Indonesia.

Didirikannya SKK Migas

SKK Migas awalnya bernama BP Migas. Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) dibentuk pada tanggal 16 Juli 2002. BP Migas adalah lembaga yang dberfungsi sebagai pembina dan pengawas Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dalam menjalankan kegiatan eksplorasi, eksploitasi dan pemasaran minyak bumi dan gas alam di Indonesia. SKK Migas kemudian dibentuk untuk menggantikan BP Migas pada tahun 2013. 

Referensi:

Belum ada Komentar untuk "Sejarah Minyak Bumi di Indonesia"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel