Joe Hin Tjio Ahli Genetika Indonesia Penemu Jumlah Kromosom Manusia


Bertahun-tahun lamanya, para ilmuwan di seluruh dunia percaya bahwa jumlah kromosom manusia adalah 24 pasang, seperti halnya simpanse. Meski ada ilmuwan yang telah menghitung jumlah kromosom manusia pada sel hati dan sel kelamin manusia, mereka tetap meyakini bahwa jumlah kromosom manusia adalah 24 pasang. Rupanya, dugaan mereka salah. Jumlah kromosom manusia adalah 23 pasang. Orang yang menemukan jumlah tepat pasangan kromosom manusia ternyata berasal dari Indonesia.

Joe HIn Tjio lahir di Pekalongan pada 2 November 1919. Tjio menempuh pendidikan dasar hingga menengah di masa kolonial Belanda yang membuatnya dapat berbicara berbahasa Prancis, Jerman dan Inggris selain bahasa Belanda. Selepas sekolah, sempat mendalami fotografi mengikuti jejak ayahnya yang merupakan seorang fotografer profesional. Ia sering membantu memproses pencetakan film di “kamar gelap” studio foto milik ayahnya.

Akan tetapi, Tjio berubah haluan, ia memutuskan untuk kembali bersekolah di bidang pertanian dengan kuliah di Sekolah Ilmu Pertanian di Bogor, waktu itu Tjio berusaha mengembangkan tanaman hibrida yang tahan terhadap hama & penyakit. Di sanalah Tjio mendapatkan dasar-dasar ilmu genetika. Pada masa pendudukan Jepang pada 1942, Tjio ditangkap dan dijebloskan ke penjara oleh Jepang selama 3 tahun.

Setelah bebas, Tjio melanjutkan pendidikannya ke Belanda melalui program beasiswa. Ia melanjutkan kembali studinya mengenai cytogenetik tanaman dan serangga hingga menjadi ahli dalam bidang tersebut. Selanjutnya, Tjio bekerja selama 11 tahun di Zaragoza setelah pemerintah Spanyol mengundangnya untuk melakukan studi dalam program peningkatan mutu tanaman. Di sela-sela liburannya, Tjio juga melakukan riset di Institute of Genetics, Lund, Swedia. Ia tertarik meneliti jaringan sel mamalia. Di sinilah penemuannya yang luar biasa itu dimulai.

Pada tahun 1955, Tjio menemukan metode baru yang berguna untuk memisahkan kromosom dari inti (nukleus) sel. Ia mengaplikasikan metode barunya tersebut untuk memisahkan kromosom manusia pada sediaan gelas yang dikembangkan oleh Dr. T.C. Hsu dari Universitas Texas di Galveston. Ternyata metode barunya itu dapat menghitung dengan tepat jumlah kromosom manusia yang terdapat pada jaringan embryonic paru-paru manusia sebanyak 46 (23 pasang). Berkat penemuannya tersebut, ia dijuluki sebagai bapak ilmu cytogenetic (llmu yang mempelajari hubungan antara struktur dan aktifitas kromosom serta mekanisme hereditas) modern, yang merupakan sebuah cabang utama ilmu genetika.

Temuan revolusionernya tersebut lalu dipublikasikan pada jurnal Scandinavian Journal of Heredity pada 26 Januari 1956. Terdapat kisah menarik di balik penemuan jumlah 23 pasang kromosom ini, selain memang hasil penelitiannya yang menggemparkan, Tjio pun melakukan tindakan yang cukup menggemparkan dunia riset Eropa saat itu karena ia menolak untuk mencantumkan Albert Levan (kepala Institute of Genetics tempat risetnya dilakukan) sebagai first euthor dalam jurnal yang diterbitkan tahun 1956 itu, padahal itu sesuatu yang ‘wajib’ sesuai konvensi Eropa yang telah berlangsung lama. Tjio bahkan mengancam akan membuang hasil penelitiannya jika ia tidak dicantumkan sebagai first author. Akhirnya, mengingat ini adalah penemuan besar, Levan mengalah dan ia pun dicantumkan hanya sebagai co-author.

Pada tahun 1958 Tjio pergi ke Amerika Serikat dan pada 1959 ia begabung menjadi staf National Institute of Health di Bethesda, Maryland, AS. Dia menerima gelar Ph.D. di biofisika dan Sitogenetika dari University of Colorado. Di sini, ia melakukan riset lainnya pada tahun 1959. Pada penelitian tersebut, ia menemukan bahwa orang-orang yang terkena Down Syndrome rupanya memiliki tambahan kromosom (trisomi) dalam sel-sel mereka. Penemuannya ini membawanya memperoleh penghargaan Outstanding Achievement Award dari Presiden Kennedy tahun 1962

Selanjutnya, Tjio bekerja di NIH (National Institute of Health) Washington, AS. Di sana Tjio mengkompilasi koleksi-koleksi foto-foto ilmiah yang mendokumentasikan penelitian-penelitiannya. Rupanya bakat fotografi terpendamnya akhirnya tersalurkan di NIH.

Joe Hin Tjio menghembuskan nafas terakhir pada 27 November 2001, di Gaithersburg, Maryland, Amerika Serikat.

Referensi:
McManus, Rich (1997-02-11), “Photographer, Prisoner, Polyglot: NIDDK’s Tjio Ends Distinguished Scientific Career”
The NIH Record (3), retrieved 2011-08-03

Belum ada Komentar untuk "Joe Hin Tjio Ahli Genetika Indonesia Penemu Jumlah Kromosom Manusia"

Posting Komentar

PopCash

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel