Halalbihalal, Tradisi Lebaran khas Indonesia

Sejarah halalbihalal

Halalbihalal merupakan hal yang wajib ada saat perayaan lebaran. Tradisi halalbihalal juga sering diadakan pada hari pertama masuk kantor atau masuk sekolah setelah libur lebaran di Indonesia. Halalbihalal dapat diartikan sebagai ‘hal maaf-memaafkan setelah menunaikan ibadah puasa Ramadan, biasanya diadakan di sebuah tempat (rumah, gedung pertemuan, dll) oleh sekelompok orang.

Halalbihalal dan Raden Mas Said

Raden Mas Said dianggap sebagai pelopor tradisi halalbihalal. Ketika kerajaan Mataram-Kartasura, sedang bergelut dalam peperangan melawan Belanda dan konflik internal keraton, Raden Mas Said mengadakan sebuah pertemuan besar-besaran di balai istana keraton Surakarta tatkala hari raya Idul Fitri.

Raden Mas Said mengundang para pembesar istana, prajurit dan pengikutnya untuk datang ke balai istana setelah melaksanakan shalat Ied. Di balai istana mereka saling bersalaman, sungkeman (bersalaman sambil berlutut) kepada orang-orang tua, dan meminta restu kepada raja. Kegiatan ini kemudian diikuti oleh tokoh masyarakat Jawa lainnya. Tradisi ini kemudian dikenal dengan istilah sungkeman, belum dinakaman halalbihalal.

Halalbihalal dan Penjual Martabak

Menurut beberapa catatan sejarah, istilah halalbihalal dipopulerkan oleh seorang penjual martabak asal India di Taman Sriwedari, Solo, pada tahun 1935-1936. Pedagangan ini dia ini mempekerjakan pelayan asal Indonesia, yang ketika menjajakan dagangannya mereka meneriakkan: "martabak Malabar, halal bin halal, halal bin halal". Karena martabak Malabar banyak dijumpai pada malam hari selama bulan Ramadan hingga Idul Fitri, akhirnya istilah bertemu, berkumpul, dan bercengkrama (terutama di tempat penjualan martabak ini) disebut sebagai "halalbihalal".

Halalbihalal dan Soekarno

Sejarah halalbihalal

Akan tetapi, hal di atas dianggap hanya urban legend semata. Hal ini disebabkan karena adanya sumber sejarah yang menyatakan bahwa istilah halalbihalal 'ditemukan' ketika terjadi pertemuan antara ulama NU, Kiai Wahab Hasbullah dengan Ir. Soekarno pada 1948. Keduanya berdiskusi untuk mencari solusi ancaman disintegrasi bangsa yang disebabkan oleh kelompok DI/TII dan PKI. Kiai Wahab mengusulkan silaturahmi nasional. Soekarno menganggap usulan tersebut menarik, akan tetapi istilah silaturahmi harus dimodifikasi agar menarik minat masyarakt. Kiai Wahab mengusulkan istilah 'halalbihalal'.

Halalbihalal bukan berasal dari bahasa Arab. Istilah ini ditemukan dari spontanitas Kiai Wahab Hasbullah. Maksud dan arti yang ingin dirujuk adalah masing-masing pribadi saling memberikan kehalalan atas kesalahan-kesalahan yang terlanjur sudah diperbuat (memaafkan kesalahan orang lain dengan ikhlas).

Halalbihalal dan Muhammadiyah

Sejarah halalbihalal

Berdasarkan sumber sejarah lainnya, diketahui bahwa penggunaan istilah halalbihalal di Indonesia sudah dipraktikkan sejak tahun 1924. Salah satu sumber sejarah menunjukkan bahwa istilah dan tradisi halalbihalal sudah ada sejak tahun 1920an di kalangan warga Muhammadiyah, organisasi Islam modernis yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan. Ini bisa dilihat dari majalah Soeara Moehammadijah, media cetak resmi terbitan Muhammadiyah yang sudah terbit sejak tahun 1915.

Keterangan mengenai halalbihalal itu tertulis dalam Soeara Moehammadijah terbitan April 1924 yang. Pada masa itu Idul Fitri jatuh pada tanggal 6 Mei. Seorang penulis asal Gombong, Jawa Tengah, bernama Rachmad, menulis sebuah kolom di sana. Judulnya ‘Hari Raja ‘Iedil fithri’.

Di artikelnya ia mengajak pembaca Soeara Moehammadijah dan kaum Muslim Indonesia pada umumnya untuk merenungkan esensi puasa Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri. Pertama, Hari Raya Idul Fitri selesainya ibadah puasa pada bulan Ramadan yang dilaksanakan selama satu bulan. Kedua, selama bulan puasa, kaum Muslim telah mengerjakan berbagai kebaikan lain, seperti berderma kepada fakir miskin. Ketiga, membayar zakat fitrah merupakan cara agar mereka yang berkecukupan membantu dengan mereka yang berkekurangan.

Mengenai Hari Raya Idul Fitri, Rachmad juga menuliskan beberapa hal yang menurutnya telah menjadi ciri khas hari besar Islam itu: ‘Oemoemnja pada hari raja ‘Iedil fithri kita sama Chalal bil Chalal sama memakai pakaian jang endah-endah, dan baoe-baoean jang haroem-haroem’. Jadi istilah dan kegiatan halalbihalal sudah menjadi penanda yang umum bagi Hari Raya pada pertengahan 1920an. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Hindia Belanda di era kolonial telah terbiasa menggunakan istilah dan menjalankan aktivitas halalbihalal.

Tradisi Halalbihalal yang Terus Berkembang

Pada tahun-tahun berikutnya, tradisi halalbihalal tidak hanya dilakukan antar anggota keluarga atau dengan tetangga di sekitar rumah, tetapi juga rekan-rekan kerja dan kolega-kolega lainnya. Pada hari raya Lebaran tahun 1931, yang jatuh pada 19 Februari, terdapat iklan setengah halaman di koran Soeara Moehammadijah yang berisi beberapa ucapan Selamat Lebaran. Ucapan-ucapan selamat Lebaran ini dituliskan oleh beberapa tokoh masyarakat asal Sumatera Barat, Jogjakarta, dan daerah-daerah lainnya. Kebiasaan saling berkirim ucapan lebaran antar daerah dapat dikatakan sebagai cikal bakal halalbihalal nasional dalam sejarah Indonesia.

Pada koran tersebut juga ditampilkan gambar dua tangan bersalaman. Gambar ini secara visual merepresentasikan inti dari silaturahmi dan halalbihalal di hari Lebaran yaitu menjalin komunikasi, merajut kebersamaan, kemudian bermaaf-maafan, untuk kemudian memulai hari baru dengan hati yang bersih. Ini adalah makna halalbihalal yang selalu ditekankan di Hari Lebaran, sejak dari era kolonial dulu hingga masa kini, meski istilahnya telah berkali-kali mengalami perubahan cara penulisan, mulai dari chalal bil chalal pada tahun 1924, alal bahalal pada tahun 1926, halal bihalal pada 1931, halal behalal tahun 1938, hingga akhirnya penulisan standar yang dipakai hingga saat ini halalbihalal.

Referensi:
https://historia.id/agama/articles/melacak-sejarah-halalbihalal-di-masa-kolonial-P9dlJ
https://tirto.id/sejarah-halalbihalal-tradisi-unik-dan-otentik-lebaran-di-indonesia-d7GZ
https://syariah.iain-surakarta.ac.id/halal-bihalal-asal-usul-dan-konteksnya-di-indonesia/

Belum ada Komentar untuk "Halalbihalal, Tradisi Lebaran khas Indonesia"

Posting Komentar

PopCash

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel