Genosida Etnis Circassia

Siapakah Etnis Circassia?

Etnis Circassia
Etnis Circassia

Etnis Circassia adalah penduduk asli dari pegunungan Kaukasus Utara di Eurasia dan berbatasan dengan Rusia, Georgia, dan Turki. Etnis Circassia telah tinggal di daerah ini selama ribuan tahun dan merupakan salah satu peradaban paling kuno di dunia. Sebagian besar orang Circassia menganut agama Islam mazhab Hanafi, seperti halnya orang-orang Turki. 

Sebenarnya, kelompok etnis ini menyebut diri mereka sebagai etnis Adhige. Akan tetapi, sejak 1840-an, orang Rusia menjuluki suku-suku yang menetap di Kaukasus Utara itu sebagai khishchniki yang berarti pencuri atau perampok karena dianggap sering menyerang benteng Rusia. Sementara istilah yang lebih banyak dipakai oleh Rusia adalah Cherkes (etnis Circassia) yang berarti orang gunung, untuk menggambarkan mereka.

Wilayah Permukiman Etnis Circassia

Wilayah Etnis Circassia
Wilayah Etnis Circassia

Etnis Circassia sebagian besar tinggal di pegunungan Kaukasus Utara, Rusia, tepatnya di bagian selatan sungai Kuban. Terdapat sekitar 700.000 etnis Circassia di wilayah kaukasus saat ini. Selain di Rusia, etnis Circassia juga tersebar di belahan dunia lainnya, dengan diaspora paling banyak sebesar 5 juta di Turki, 100.000 di Suriah, 50.000 di Jordania, 40.000 di Eropa (terutama Jerman dan Prancis) 5.000 di Amerika Serikat dan 3.000 di Israel.

Hingga jatuhnya Uni Soviet pada tahun 1991 banyak orang dari etnis Circassia yang tidak menyadari keberadaan diaspora Circassia, karena propaganda Rusia dan disinformasi yang dibuat oleh Rusia. 

Wilayah tempat berkumik etnis Circassia di Kaukasus Utara kaya akan sumber daya alam seperti mineral, uranium dan minyak bumi, serta dianggap sebagai salah satu daerah yang paling indah di dunia.

Pertempuran Rusia - Circassia dan Genosida Etnis Circassia

Genosida etnis Circassia
Genosida etnis Circassia

Rusia menyerang wilayah Circassia dan mengobarkan pertumpahan darah selama 100 tahun sejak tahun 1763 hingga tahun 1864 di wilayah pegunungan tersebut. Pembangunan benteng Mozdok di Kabardia oleh Rusia pada 1763 dianggap sebagai permulaan Perang Rusia kontra Circassia.

Pada pertengahan abad ke-19, Kekaisaran Rusia berusaha memperluas wilayahnya hingga ke selatan dan menargetkan wilayah Kaukasus tempat orang Circassia berdiam yang sebelumnya berada di bawah pengaruh Kesultanan Turki Ottoman. 

Tindakan Rusia menaklukkan tanah Kaukasus Utara ini mendapat restu dari Turki Utsmani, merujuk pada perjanjian Küçük Kaynarca pada 1774 dan Perjanjian Adrianople 1829 yang membahas soal pengakhiran Perang Rusia - Turki dan perubahan wilayah kekuasaan.

Perang Rusia - Circassia berlangsung lama. Perang memakan waktu lebih dari dari seabad untuk menaklukkan suku-suku Circassia yang mayoritas beragama Islam. Meski etnis Circassia memiliki agama yang sama dengan agama mayoritas di Kesultanan Ottoman, tetapi orang-orang etnis Circassia tidak pernah merasa wilayahnya berada di bawah kendali penuh Ottoman. Akhirya, meski Rusia mendapat restu dari Turki Ottoman, orang Circassia tidak mau tunduk dan melawan dengan sengit di bawah kepemimpinan, seorang imam Chechnya dan Dagestan yang bernama Shamil.

Kaum pria dan wanita termasuk anak-anak bahu membahu melawan agresi Rusia. Taktik gerilya di pegunungan dipilih karena kekuatan militer Rusia yang lebih superior dan pasukan mereka yang berjumlah banyak akan sangat sulit dikalahkan dalam medan perang konvensional.

Perlawanan sengit bangsa Circassia selama hampir 100 tahun membuat prajurit kekaisaran Rusia hampir putus asa karena kelelahan dan mengeluarkan banyak biaya.

Sebagai balasannya pasukan Rusia melakukan genosida dengan cara membantai kurang lebih 1,5 juta orang penduduk etnis Circassia. Penduduk etnis Circassia yang masih hidup digiring ke kamp kerja paksa di pantai Laut Hitam di mana mereka menunggu kematian mereka.

Kaisar Russia saat itu, Tsar Alexander II menginginkan agar seluruh bangsa Circassia keluar dari wilayah tersebut dengan cara apapun juga untuk digantikan dengan orang Rusia atau setidaknya warga yang pro Rusia.

Sejak tahun 1830-an, pasukan Rusia terus melakukan berbagai kejahatan perang hingga berakhirnya perang pada 1864 dan Kaukasia Utara jatuh di tangan Rusia. Akibatnya, terdapat sekitar satu juta orang Circassia yang dipaksa pergi dari tanah kelahirannya dan menyeberangi Laut Hitam menggunakan perahu menuju wilayah Anatolia di Turki Ottoman atau ke wilayah Balkan. Pada proses pembersihan etnis tersebut, 50% etnis Circassia tewas akibat kelaparan, penyakit, dan penganiyayaan.

Count Dmitri Milyutin yang pada saat itu menjabat sebagai menteri perang, mengeluarkan strategi untuk memperlemah pertahanan etnis Circassia. Pada tahun 1864 pasukan kaisar di bawah komando  Count Dmitri Milyutin mulai melakukan pengusiran dan pembantaian besar-besaran, bagi mereka yang ingin tetap tinggal di situ harus tunduk pada kekaisaran Rusia. Desa dan kota dibumihanguskan oleh tentara kekaisaran Rusia. Selain itu, persediaan makanan dan lahan pertanian penduduk Circassia juga turut dibakar, sebagai strategi pelemahan kekuatan etnis Circasssia.

Sebagian besar dari mereka tewas karena kelaparan dan penyakit, sedangkan sisanya hidup digiring seperti ternak ke kapal Rusia untuk membawa mereka ke Kesultanan Turki Ottoman. Para pria dipekerjakan sebagai budak dan kasim (laki-laki penjaga Harem yang dikebiri) sedangkan yang perempuan dijual sebagai Harem di kesultanan Ottoman.

Rusia tidak mengakui bangsa Circassia juga tidak memperbolehkan bangsa itu kembali ke tanah leluhurnya. Mereka yang tinggal di Kaukasus berada dalam ketakutan karena penindasan dan ancaman terus-menerus oleh pemerintah terhadap kehidupan dan mata pencaharian mereka.

Merekajuga  tidak diizinkan untuk berbicara bahasa asli mereka di sekolah dan mereka tidak diperbolehkan untuk secara terbuka menyatakan sejarah dan asal-usul mereka.

Konflik yang Berlangsung Hingga Kini

Saat ini, wilayah Circassia sudah jarang terlihat di peta dunia. Hal ini disebabkan karena karena Genosida etnis Circassia yang dilakukan oleh Rusia terhadap bangsa ini.
Etnis Circassia tolak Sochi
Demo Etnis Circassia tolak Olimpiade Sochi
Ketegangan terakhir etnis Circassia terjadi saat penyelenggaraan olimpiade musim dingin 2014 di Sochi, Rusia. Kejadian ini dipicu oleh organisasi nasionalisme Circassia, yang menuntut agar Olimpiade dibatalkan kecuali Rusia meminta maaf atas tindakan genosida yang dilakukannya terhadap bangsa Circassia pada abad ke-19. Mereka melayangkan protes itu karena Sochi merupakan wilayah Circassia.

Hingga saat ini, pemerintah Federasi Rusia belum melakukan permintaan resmi atas tragedi genosida yang menimpa etnis Circassia di masa lalu.

Referensi:

Belum ada Komentar untuk "Genosida Etnis Circassia "

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel