Wabah Antoninus, Wabah Penyakit yang Meluluhlantakan Kekaisaran Romawi


Wabah Antoninus adalah wabah penyakit yang menerpa Kekaisaran Romawi sekitar tahun 165M hingga tahun 180 M, pada masa pemerintahan Kaisar Marcus Aurelius dan wakilnya yang bernama Lucius Verus. Wabah penyakit ini dinamakan berdasarkan dinasti yang berkuasa pada saat itu, yaitu Dinasti Antoninus. Selain itu, wabah ini juga kerap disebut sebagai wabah Galenus, yang diambil dari nama seorang dokter yang bertugas menangani dan mencatat peristiwa tersebut.

Wabah ini diperkirakan berasal dari Tiongkok dan menyebar melalui jalur Sutra di Asia Tengah, dan kemudian masuk ke wilayah kekuasaan Romawi melalui laut sekitar tahun 165 M. Wabah Antoninus diketahui muncul pertama kali di Seleucia, Yunani. Wabah ini diduga pertama kali diderita oleh tentara Romawi yang baru saja selesai bertempur melawan Persia pada musim dingin  tahun 165. Setelah itu, wabah ini menyebar ke berbagai provinsi Romawi, termasuk kota Roma. Saat itu dokter Galenus yang tengah berada di Pergamon, kemudian dipanggil oleh kedua kaisar untuk kembali ke Kota Roma guna menganalisis wabah baru tersebut pada tahun 168 M.

Wabah Antoninus memiliki gejala berupa ruam di merah seluruh tubuh yang terasa gatal. Beberapa hari kemudian, ruam tersebut menjadi kasar dan menimbulkan borok. Selain di permukaan kulit, borok ini juga dapat menyebar hingga ke kerongkongan dan organ-organ pencernaan. Gejala lain dari wabah ini adalah batuk, flu, sesak nafas, dan diare, Pada tahapan yang lebih parah, penderita akan mengalami batuk darah dan diare berat hingga feses berwarna hitam akibat pendarahan dalam. Sejarawan dan ilmuwan masa kini memperkirakan bahwa wabah Antoninus adalah penyakit cacar yang ganas.

Banyak Wilayah Terdampak


Berdasarkan catatan sejarah dari Cassius Dio, setiap hari, sebanyak 2000 orang meninggal akibat wabah ini. Karena banyak pegawai negeri yang meninggal akibat wabah ini, kaisar akhirnya menghapus sejumlah syarat untuk menjadi seorang areopagus (semacam pegawai negeri). Paulus Orosius menuliskan bahwa banyak desa-desa dan kota kecil di Italia dan provinsi-provinsi Eropa kehilangan seluruh penduduknya.

Tingkat mortalitas wabah ini tinggi, hingga mencapai 7-10%, tetapi tingkat kematian wabah ini dapat meningkat hingga 15% di wilayah padat penduduk. Sekitar 5 juta penduduk seluruh kekaisaran Romawi meninggal akibat wabah Antoninus. Minimnya ilmu kedokteran dan obat yang tersedia, buruknya sanitasi, permukiman padat penduduk, buruknya pola makan, hingga kebiasaan penduduk Romawi berkumpul di tempat-tempat keramaian menyebabkan wabah ini menyebar dengan cepat. 

Selain menjangkiti warga sipil, wabah ini juga menjangkiti tentara Romawi. Banyak tentara yang meninggal akibat wabah ini sehingga memperlemah pertahanan di berbagai wilayah, terutama Germania menjadi sasaran bagi suku-suku Germanik yang tinggal di Utara. Di Mesir, anak-anak tentara direkrut untuk menggantikan korban wabah. Di Balkan, jumlah pengeluaran sertifikat pensiun menunjukkan penurunan signifikan jumlah tentara yang diperbolehkan pensiun untuk menjaga jumlah tentara. Puncaknya, Kaisar Lucius Verus meninggal akibat wabah ini pada tahun 180, dan digantikan oleh Comodus.

Akibat wabah penyakit dan serangan bangsa-bangsa barbar, Romawi kehilangan banyak legion terbaiknya, produksi pertanian menurun drastis, banyak pejabat dan pegawai negeri tewas. serta merosotnya penerimaan pajak dari wilayah-wilayah taklukkan Romawi. Proyek-proyek strategis terhenti. Hal ini menyebabkan kemunduran Kekaisaran Romawi. 


Belum ada Komentar untuk "Wabah Antoninus, Wabah Penyakit yang Meluluhlantakan Kekaisaran Romawi"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel