Penaklukkan Yerusalem oleh Kekaisaran Romawi

Latar Belakang

Kekaisaran Romawi tidak pernah memperlakukan orang-orang Yahudi dengan baik. Kekaisaran Romawi pernah mendukung Herodes Agung, perampas kekuasaan yang dibenci. Meskipun ia telah membangun berbagai macam bangunan unik yang indah, ia tidak dapat meraih hati rakyat Yudea yang didominasi oleh kaum Yahudi.

Arkhelaus, putra dan penerus Herodes, adalah pemimpin yang keji sehingga rakyat meminta pertolongan Roma untuk menggantinya. Roma pun menolong mereka dengan mengirimkan sejumlah Gubernur secara bergilir dimulai dari Pontius Pilatus lalu diteruskan oleh Feliks, Festus dan Florus. Tugas mereka menjaga ketenteraman di daerah yang tidak stabil itu.
Gesius Florus

Pada tahun 60 M, wilayah Yudea dipimpin oleh seorang gubernur Romawi bernama Gessius Florus. Gessius merupakan orang yang kejam, mencintai uang, dan membenci orang-orang Yahudi. Ketika pemasukan pajak di Yudea menurun, ia pun mulai merampas benda-benda perak dari Bait Allah. Pada tahun 60, ketika banyak orang yang semakin menentang pemerintahannya, ia mengirim pasukan ke Yerusalem untuk menyalib dan membantai sejumlah orang Yahudi.

Akibatnya banyak orang Yahudi yang menjadi marah dan merasa terancam akibat peristiwa berdarah tersebut. Orang-orang Yahudi itu masih teringat akan kenangan masa-masa Makabe, ketika mereka terbebas dari penindasan orang-orang Siria. Sekarang, jumlah mereka yang kecil ditambah kebangkitan Roma membuat mereka kembali di bawah kekuasaan orang-orang asing.

Sejak masa pemerintahan Herodes, denyut jantung revolusi mereka senantiasa berdetak. Orang-orang Zelot dan Farisi, sangat menantikan adanya perubahan. Mereka menantikan dengan semangat datangnya seorang Mesias. Berbekal semangat tersebut, beberapa orang Zelot memutuskan menyerang benteng itu. Yang mengherankan, mereka menang dan membantai tentara Romawi yang berkemah di sana.

Di Masada (sebuah bukit karang yang menghadap Laut Mati, tempat Herodes membangun istananya dan orang-orang Romawi mendirikan benteng), orang Yahudi mulai melakukan serangan terbuka terhadap pasukan Romawi. Orang-orang Yahudi kalah dalam penyerangan tersebut.

Di Yerusalem, kepala Bait Allah menyatakan pemberontakan terbuka melawan Romawi dengan menghentikan persembahan harian untuk Kaisar. Tidak lama kemudian seluruh Yerusalem menjadi rusuh; pasukan Romawi diusir dan dibunuh. Yudea memberontak, kemudian Galilea. Untuk sementara waktu orang-orang Yahudi unggul atas Romawi.

Cestius Gallus, Gubernur Romawi untuk daerah itu berangkat dari Siria dengan 20.000 tentara. Ia menguasai Yerusalem selama enam bulan namun gagal dan kembali. Ia meninggalkan 6.000 tentara Romawi yang tewas dan sejumlah besar persenjataan yang dipungut dan dipakai orang-orang Yahudi.

Kaisar Nero mengirim Vespasianus, seorang jenderal yang dianugerahi banyak bintang jasa, untuk meredam pemberontakan di Yudea. Vespasianus lalu melumpuhkan kelompok pemberontak tersebut secara bergilir. Ia memulainya di Galilea, kemudian di Transyordania, dan terakhir a di Idumea. Setelah memadamkan pemberontakkan, ia mengepung Yerusalem.

Akan tetapi sebelum menjatuhkan Yerusalem, Vespasianus dipanggil pulang ke Roma setelah wafatnya Kaisar Nero. Pergumulan untuk mencari pengganti Nero berakhir dengan keputusan Vespasianus sebagai Kaisar. Titah kekaisaran pertamanya ialah penunjukan anaknya, Titus, untuk memimpin Perang Yahudi.

Penaklukkan Yerusalem oleh Kekaisaran Romawi

Setelah Titus naik menjadi jenderal Romawi, Yerusalem pun menjadi sasaran empuk setelah terpisah dari daerah-daerah lain. Beberapa faksi (kelompok) dalam kota itu sendiri berebut mengatur strategi pertahanan. 
Penaklukkan Yerusalem oleh kekaisaran Romawi


Pertempuran sengit antara pasukan Romawi dan Yahudi berlangsung. Pasukan Romawi terdiri dari 70.000 orang, sedangkan pasukan Yahudi terdiri dari 13.000 pasukan yang terpecah dalam tiga faksi yang masing-masing dipimpin oleh Simon Bar-Giora, Yohanan mi-Gush Halav (John of Gischala), dan Eleazar ben Simon. Titus dengan sengaja membiarkan para peziarah masuk ke Yerusalem pada hari perayaan Paskah (pesach), tetapi tidak mengizinkan peziarah itu keluar. Akibatnya, simpanan dan persediaan makanan di Yerusalem menipis.

Titus dan pasukannya berhasil merangsek masuk ke Yerusalem dan harus menghadapi perlawanan sengit pasukan Yahudi di jalan-jalan kota. Akan tetapi serangan yang dilakukan oleh kaum Yahudi tidak terorganisisr dengan baik membuat pasukan Romawi dengan cepat menguasai Yerusalem. 

Selain itu, pasukan Romawi menggelar mesin-mesin perang baru, yaitu mesin pelontar batu  (trabuchet) untuk meruntuhkan tembok-tembok yang melindungi kota. Balok pendobrak pintu gerbang merobohkan benteng pertahanan. Orang-orang Yahudi berperang sepanjang hari, dan pada malam hari mereka berjuang untuk membangun kembali tembok-tembok yang runtuh.

Titus sebenarnya berencana untuk mempertahankan kuil terbesar Yahudi untuk dipersembahkan kepada Kaisar Nero, tetapi api akibat pertempuran meluas cepat dan kuil utama Yahudi di Yerusalem pun roboh.

Pasukan Romawi membantai begitu banyak warga sipil dan diperkirakan 60.000-1.100.000 warga sipil Yahudi Yerusalem tewas. Ketika pengepungan berakhir, penduduk kota pun mati satu per satu karena kelaparan dan wabah penyakit. Istri imam kepala yang biasanya menikmati kemewahan, turun ke jalan untuk memungut sisa makanan.

Akhirnya, orang-orang Romawi merobohkan tembok lapisan luar, kemudian lapisan kedua dan akhirnya yang ketiga. Namun orang-orang Yahudi masih berperang sambil merangkak menuju Bait Allah sebagai garis pertahanan terakhir.

Peperangan tersebut merupakan akhir bagi para pejuang Yahudi yang gagah berani dan Bait Allah mereka. Sejarawan Yahudi, Josephus menjelaskan bahwa Titus ingin melindungi Bait Allah tersebut, tetapi prajurit-prajuritnya begitu marah terhadap musuh mereka sehingga mendorong mereka membakar Bait Allah.

Dampak Jatuhnya Yerusalem

Jatuhnya Yerusalem mengakhiri pemberontakan. Orang-orang Yahudi dibantai atau ditangkap serta dijual sebagai budak. Gerombolan orang Zelot yang menduduki Masada bertahan di situ selama tiga tahun. Ketika orang-orang Romawi membangun lereng pengepungan dan menyerbu benteng pegunungannya, mereka menemukan orang-orang Zelot mati bunuh diri sebagai penolakan menjadi tawanan orang asing.

Penghancuran Bait Allah (yang dipugar Herodes) mengubah tata cara peribadahan orang-orang Yahudi. Mereka tidak lagi mempersembahkan korban sembelihan, tetapi memilih dan mengutamakan sinagoge yang didirikan pendahulu mereka ketika Bait Allah (yang didirikan Salomo) dihancurkan orang-orang Babel pada tahun 586 SM.

Akibat serangan tersebut, banyak umat Yahudi yang masih selamat melarikan diri ke Pella di Transyordania.


Referensi:
https://www.dailymail.co.uk/sciencetech/article-3860812/amp/Battlefield-led-conquest-Jerusalem-uncovered-Site-Roman-emperor-Titus-Wall-siege-D-70-complete-stones-soldiers-used-grisly-battle.html
http://www.eyewitnesstohistory.com/jewishtemple.htm
http://www.haaretz.com/jewish/this-day-in-jewish-history/70-c-e-the-roman-siege-of-jerusalem-ends-1.463093

Belum ada Komentar untuk "Penaklukkan Yerusalem oleh Kekaisaran Romawi"

Posting Komentar

PopCash

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel