Coco Chanel Mata-mata Nazi


Gabrielle Bonheur “Coco” Chanel, dunia mengenangnya sebagai seorang desainer berbakat dan ikon fashion yang cantik & elegan. Akan tetapi, ia juga dikenal sebagai simpatisan dan pendukung Nazi. Yang lebih mengerikan lagi, ada banyak dokumen sejarah yang menunjukkan bahwa ia adalah seorang mata-mata Nazi yang bekerja untuk Abwehr, badan itelijen militer Jerman.

Setelah Nazi menguasai Paris pada tahun 1940, Coco Chanel bersembunyi di hotel Ritz, yang merupakan kantor pusat Nazi di Paris. Chanel mulai dekat dengan seorang petinggi Abwehr, badan intelijen Jerman bernama Baron Hans Günther von Dincklage yang disebut-sebut dekat dengan Joseph Goebbels, seorang Jenderal tangan kanan Adolf Hitler. Hal ini mempermudah hidup Chanel selama PD II. Beberapa sumber mengatakan bahwa hubungan hubungan Chanel dengan aristokrat Jerman ini sudah dimulai sejak tahun 1930-an, jauh sebelum Perang Dunia II dimulai. 

Chanel merupakan seorang anti-semit dan sedikit rasis terhadap kaum Yahudi. Pada tahun 1941, ia memiliki masalah konflik kepemilikan bisnis dengan Gerard Wertheimer dan Alain Wertheimer,  yang merupakan pengusaha Yahudi yang telah memberinya bimbingan dan bantuan finansial pada awal tahun 1920an. Wertheimer bersaudara memiliki 90% saham Chanel. Ia mengambil kesempatan dengan diberlakukannya "hukum Aryan" yang melarang orang Yahudi untuk memiliki bisnis, ia menyurati petinggi partai Nazi dan meminta hak kepemilikan penuh atas Parfum Chanel. Setelah itu, kedua pengusaha Yahudi tersebut menyerahkan kepemilikannya kepada temannya yang non-Yahudi dan pindah ke New York.

Hubungannya dengan Dincklage juga mampu membuatnya menyelesaikan berbagai masalah pribadi, seperti membebaskan keponakannya, Andre Palasse dari penjara. Sebelum keponakan Chanel dibebaskan dari penjara, Dincklage memperkenalkan kekasihnya pada salah seorang agen Abwehr yang disegani bernama Baron Louis de Vaufreland, seseorang yang berjanji akan membebaskan Andre dari penjara dengan syarat Chanel bersedia melakukan pengabdian kepada Jerman.

Chanel selanjutnya didaftarkan sebagai Agen F-7124 dengan kode nama "Westminster" pada tahun 1941. Tugas Chanel pada saat itu adalah untuk mendapatkan informasi politik dari kolega yang berada di Madrid. Ia juga ditugaskan untuk mencari informasi seputar tentara sekutu di Paris untuk dilaporkan langsung kepada Joseph Goebbels.

Selama perang, ia menjalankan misi sebagai agen ganda Abwehr untuk Madrid dan Berlin. Selain itu, ia juga mempengaruhi dan merekrut orang-orang untuk bekerja kepada Nazi Jerman. Coco Chanel ikut serta dalam penyusunan strategi Third Reich untuk mengontrol Madrid. Ia bertindak sebagai pembawa pesan dari badan intelijen asing Hitler kepada Winston Churchill untuk mempengaruhinya gar mau bernegosiasi dan mengakhiri perang dengan Jerman.

Pada tahun 1944, ia masuk dalam daftar pencarian orang (DPO) akibat kerjasamanya dengan pihak Nazi, yang merupakan musuh Prancis. Setelah perang berakhir, ia kembali diinvestigasi dan melarikan diri ke Swiss, untuk membebaskannya dari segala tuduhan. Ia kembali ke Prancis pada tahun 1954 untuk membangun kembali bisnisnya. Sekembalinya ke Paris, presiden Prancis saat itu, Charles de Gaulle memutuskan untuk melanjutkan pemeriksaan terhadap Chanel. Meskipun begitu, ia tidak diadili atas dugaan pengkhianatan. Ia menjalani hidup normal dan meninggal pada tahun 1971.


Referensi:
https://www.vogue.co.uk/article/coco-chanel-nazi-spy-chanel-denies-its-truth

Belum ada Komentar untuk "Coco Chanel Mata-mata Nazi"

Posting Komentar

PopCash

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel