Sulianti Saroso, Dokter Perempuan Indonesia dengan Segudang Prestasi

Sulianti Saroso

Prof. Dr. dr. Julie Sulianti Saroso, MPH lahir di Karangasem, Bali pada tanggal 10 Mei 1917. Ia merupakan lulusan Sekolah Tinggi Kedokteran (Geneeskundige Hoogeschool) Jakarta tahun 1942. Setelah lulus dari sekolah kedokteran, ia bekerja di unit penyakit dalam di Centrale Burgerlijke Ziekenhuis (sekarang dikenal dengan nama RSCM) di Jakarta.

Pasca kemerdekaan, ia melanjutkan kariernya di Rumah Sakit Bethesda Jogjakarta, di unit penyakit anak. Setelah itu, ia meneruskan pendidikannya di Inggris dengan beasiswa untuk mempelajari kesehatan ibu dan anak dari WHO selama 2 tahun (sejak 1950 sampai 1951) dan mendapatkan Certificate of Public Health Administration dari University of London.

Aktif Berpolitik

Pada masa perjuangan kemerdekaan hingga tahun 1949, Julie mengusahakan obat-obatan dan makanan di kantong-kantong gerilya di wilayah Demak, Jogjakarta, dan Gresik. Tindakannya itu membuatnya ditawan oleh tentara Belanda selama dua bulan di IVG Yogyakarta. Julie Sulianti Saroso juga aktif di Organisasi Pemuda Putri Indonesia (PPI). Ia juga merupakan anggota Dewan Pimpinan KOWANI (Kongres Wanita Indonesia) dan badan Kongres Pemuda Republik Indonesia. Selanjutnya, bersama teman-temannya, ia juga membentuk Laskar Wanita yang diberi nama WAPP (Wanita Pembantu Perjuangan). Pada tahun 1947 mewakili Indonesia di Kongres Wanita (Inter Asian Women Conference) di India.

Setalah revolusi, Sulianti kembali mendedikasikan diri pada bidang kedokteran. Ia bekeja di Kementerian Kesehatan. Prestasinya mengesankan. Setelah menyelesaikan studinya pada tahun 1952, Sul ianti membawa banyak ide tentang kesehatan ibu dan anak, khususnya pengendalian angka kelahiran melalui pendidikan seks dan gerakan keluarga berencana.

Untuk mencari dukungan pemerintah, ia aktif melakukan kampanye dan siaran melalui RRI Jogjakarta. Dalam kampanyenya, ia kerap menyarankan pemerintah untuk membuat keputusan-keputusan untuk mendukung penggunaan kontrasepsi melalui sistem kesehatan masyarakat terpadu.

Alasan yang melatarbelakangi kampanye keluarga berencana oleh Sulianti adalah Indonesia kekurangan tenaga bidan, yang mengakibatkan masyarakat pergi ke dukun beranak untuk melahirkan. Praktik tersebut menyebabkan banyak kematian ibu dan bayi. Selain itu, menurutnya, jumlah penduduk Indonesia akan terus bertambah jika angka kelahiran tidak ditekan.

Kampanyenya tersebut sampai ke telinga Bung Hatta yang saat itu menjabat sebagai perdana menteri. Bung Hatta meminta Sulianti berhenti mengampanyekan keluarga berencana dan tetap menjalankan tugasnya sebagai kepala Jawatan Kesehatan Ibu dan Anak pada Kementerian Kesehatan di Jogjakarta.

Selain itu, pernyataan Sulianti juga menuai reaksi dari berbagai pihak. Gabungan Organisasi Wanita Yogyakarta (GOWY), sejumlah bidan dan dokter, serta organisasi agama Islam dan Katolik menolak usulan Sulianti terkait keluarga berencana. Mereka beranggapan bahwa usulan Sulianti tentang pembatasan kelahiran dan penggunaan kontrasepsi, melanggar hak azasi manusia (karena dianggap membunuh "bakal" manusia), memperluas pelacuran dan merusak moral masyarakat.

Akibatnya, Sulianti dipanggil dan ditegur oleh menteri kesehatan, yang sebelumnya telah ditegur oleh Presiden Soekarno, yang juga tidak menyetujui wacana pembatasan kelahiran melalui keluarga berencana. Sulianti diminta untuk menghentikan kampanyenya terkait keluarga berencana.

Selanjutnya, Sulianti bekerja dengan lebih behati-hati. Bersama dengan sejumlah tokoh perempuan ia mendirikan Yayasan Kesejahteraan Keluarga (YKK) pada 12 November 1952, yang membuka akses terhadap pengaturan kehamilan serta kesehatan ibu dan anak. Mereka tidak lagi memakai istilah pembatasan kelahiran melainkan pengaturan kehamilan dan lebih menekankan pada alasan kesehatan. Di Jakarta, Sulianti memberi tahu di klinik praktiknya bahwa layanan pengendalian kelahiran tersedia di sektor swasta.

Sulianti juga menggerakkan usaha kesehatan masyarakat. Pada tahun 1956, ia mengepalai Unit Kesehatan Masyarakat Desa dan Pendidikan Kesehatan Rakyat (KMD/PKR). Ia membuat “Proyek Bekasi” di Lemah Abang, Bekasi, Jawa Barat. Proyek tersebut merupakan proyek percontohan atau model pelayanan bagi pengembangan kesehatan masyarakat dan pusat pelatihan, yang memadukan pelayanan kesehatan pedesaan dan pelayanan medis.

Kiprah Selama Masa Orde Baru


Pada periode Orde Baru, Sulianti terus berkiprah di dunia medis. Di era Tahun 1967 ia diangkat menjadi Direktur Jenderal Pencegahan, Pemberantasan dan Pembasmian Penyakit Menular (P4M) dan merangkap Ketua Riset Kesehatan Nasional (LRKN) Departemen Kesehatan. Ia berhasil meyakinkan komisi internasional WHO bidang pemberantasan penyakit cacar bahwa Indonesia sudah bebas dari penyakit cacar, yang saat itu menerpa banyak negara di dunia.

Pada tahun 1969, ia ditetapkan sebagai Profesor di Universitas Airlangga Surabaya dengan mengucapkan pidato pengukuhan "Pendekatan Epidemiologis dalam Menanggulangi Penyakit".

Ia mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Dirjen P4M pada tahun 1975 dan diangkat menjadi Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Departemen Kesehatan sampai dengan tahun 1978. Pada tahun 1978 ia diangkat menjadi anggota tim perumus dan evaluasi Program Utama Nasional Bidang Ristek yang diperbantukan pada Menteri Negara Ristek. 1 Januari 1979 ia diangkat menjadi staf ahli Menteri Kesehatan. Pada tahun 1979 ia ditunjuk sebagai anggota Board of Trustess of the International Center of Diarhoeal Disease Research Bangladesh dan menjabat sebagai Chairman of the Board selama setahun sejak 1979 hingga 1980. Pada tahun 1981 iamenjadi penasehat Proyek Perintis Bina Keluarga dan Balita di bawah Menteri Muda Urusan Peranan Wanita. Pada tahun 1982, ia diangkat menjadi Dosen pada Lembaga Kedokteran Gigi Dinas Kesehatan Angkatan Laut.

Sulianti juga pernah menjabat Ketua Gugus Tugas Penyusunan Rencana Lima tahun PELITA II untuk bidang Kesehatan dan menjadi anggota Komisi Nasional Kedudukan Wanita Indonesia. Ia juga kerap mewakili Pemerintah Indonesia pada sidang-sidang Internasional di Bidang Kesehatan. Selain itu, ia juga merupakan anggota WHO Expert Committee of Maternity and Child Health, anggota Komisi PBB untuk Community Development di Negara-negara Afrika, anggota Honorary Society on Public Health Delta Omega, anggota WHO Expert Committee of International Surveillance of Communicable Diseases, President of the World Health Assembly, dan anggota Badan Eksekutif WHO.

Sulianti Saroso merupakan salah satu dari dua orang perempuan yang pernah menjabat sebagai Presiden World Health Assembly selain Rajkumari Amrit Kaur dari India.

Usulan mengenai program keluarga berencana yang pernah diusulkannya pada masa Orde Lama, akhirnya ditetapkan menjadi program naasional pada masa Orde Baru.

Segudang Penghargaan

Atas kontribusinya dalam bidang kesehatan, Sulianti Saroso menerima banyak penghargaan dari dalam dan luar negeri seperti:
  1. Piagam Pengabdian dan Jasa dalam meningkatkan Usaha Kesehatan (hygiene dan sanitasi) dari Menteri Kesehatan
  2. Piagam dari Pemerintah India atas jasanya dalam meningkatkan kesehatan masyarakat
  3. Piagam Pegawai Teladan dari Menteri Kesehatan
  4. Bintang Mahaputra Pratama dari Presiden RI tahun 1975
  5. Bintang Penghargaan dari WHO South-east Asia Regional Committee
  6. Piagam Penghargaan dari WHO Geneva atas partisipasinya dalam membasmi penyakit cacar di dunia
  7. Piagam dari IDI atas semangat pengabdiannya yang luar biasa pada dunia kedokteran dan kesehatan Indonesia
  8. Piagam Penghargaan dari Queensland Institute of Medical Research, Brisbane, Australia

Diabadikan Menjadi Nama Rumah Sakit

Rumah Sakit Sulianti Saroso

Sulianti Saroso merupakan dokter Indonesia berprestasi yang berhasil mengangkat dunia kedokteran Indonesia ke tingkat dunia. Ia tutup usia pada 29 April 1991. Selanjutnya, namanya diabadikan menjadi nama sebuah rumah sakit yang berlokasi di Sunter, Jakarta Utara: Rumah Sakit Penyakit Infeksi Prof. Dr. Sulianti Saroso atau yang dikenal dengan nama RSPI, yang dibangin pada tahun 1992. Rumah sakit ini kerap menjadi tempat perawatan medis bagi penderita penyakit infeksi termasuk flu burung, SARS, MERS, dan coronavirus (COVID-19).

Referensi:

Belum ada Komentar untuk "Sulianti Saroso, Dokter Perempuan Indonesia dengan Segudang Prestasi"

Posting Komentar

PopCash

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel