Flu Spanyol, Pandemi Flu Terbesar dalam Sejarah

Flu Spanyol

Pandemik Flu 1918 yang biasa disebut Flu Spanyol adalah Pandemik Influenza yang disebabkan oleh virus Influenza Tipe A subtipe H1N1, yang berbeda dengan flu yang telah diketahui pada masa itu. Flu Spanyol terjadi sejak Maret 1918 hingga Juni 1920, yang menyebar sampai ke Arktik dan kepulauan Pasifik.

Awal Mula Flu Spanyol

Meski disebut flu Spanyol, penyakit ini bukan berasal dari Spanyol dan tidak ada kepastian yang menyebutkan di mana penyakit ini muncul pertama kali. Menurut pendapat Frank Macfarlane Burnet, virologis Australia yang meneliti tentang influenza, wabah ini bermula pada tahun 1918 di Camp Funston dan Haskell County, Kansas Amerika Serikat. Sedangkan menurut surat kabar North China Daily News, seperti dikutip harian Pewarta Soerabaia, wabah ini muncul pertama kali di Swedia atau Rusia dan kemudian menyebar ke Tiongkok, Korea, Jepang, dan Asia Tenggara.

Pada tahun 1918, Perang Dunia Pertama tengah berkecamuk. Akibatnya, negara-negara Eropa seperti Inggris, Jerman, dan Prancis melakukan sensor ketat terhadap berita-berita yang beredar, demi kepentingan politis dan keamanan masyarakat. Akan tetapi, sebagai negara netral yang tidak terlibat dalam perang, Spanyol tidak memiliki penyensoran masa perang, sehingga pemberitaan mengenai flu jenis baru ini terus berlangsung sejak Mei 1918. Selain itu, Raja Spanyol diberitakan menjadi salah satu korban paling awal dari flu ini. Sejak saat itu, flu ini lebih terkenal dengan sebutan flu Spanyol.

Gejala Flu Spanyol

Flu Spanyol
Berita yang Menyelepelekan Flu Spanyol

Di awal kemunculannya, banyak orang yang mengabaikan flu Spanyol. Mereka menganggap bahwa flu Spanyol hanya sekedar penyakit flu biasa dan dapat dicegah hanya dengan mencuci tangan memakai sabun.

Penyakit ini menular dengan sangat cepat karena virus ditularkan melalui udara (airborne). Penyakit ini segera menyebar pada Perang Dunia Pertama di Eropa, membunuh seluruh divisi tentara sepanjang musim semi dan awal musim panas. Kemudian flu ini tampak mereda. Meski demikian, pada akhir musim panas, flu Spanyol kembali muncul, dan keganasannya semakin bertambah parah.

Penderita awalnya hanya merasakan gejala seperti flu biasa. Beberapa hari kemudia, penderita merasa demam disertai dengan sakit kepala menusuk, dan sakit pada tulang-tulang sendi. Penderita juga mengalami mual, muntah, mimisaan, menggigil, dan herpes.

Pada tahap selanjutnya, virus menyerang paru-paru korban dan menyebkan penumonia. Sekitar lima persen penderita meninggal, setelah mengalami sakit keras selama dua atau tiga hari, Para dokter yang membedah dada korban-korban menemukan bahwa paru-paru yang biasanya bersifat ringan dan lentur, menjadi berat seperti spons penuh air karena tersumbat lendir dan darah.

Merenggut Banyak Korban Jiwa

Flu Spanyol

Virus H1N1 penyebab flu Spaonyol ini memiliki mortality rate sebesar 2.5% yang lebih besar dari virus-virus penyebab penyakit flu lainnya  yang hanya memiliki mortality rate sebesar 0.1%.

Jumlah korban tewas akibat flu Sapanyol diperkirakan mencapai 21 juta jiwa (John Barry) hingga 50-100 juta jiwa (Nial Johnson dan Juergen Mueller), di mana kematian terbesar terjadi pada balita, orang berusia 20-40 tahun, dan lansia. Sejak Maret 1918 hingga September 1919, Flu Spanyol telah merenggut sekitar dua persen populasi dunia yang saat itu berjumlah 1,7 miliar orang. Angka tersebut jauh melebihi jumlah korban PD I sebanyak 9,2 juta-15,9 juta jiwa. Para epidemiologis menyimpulkan bahwa flu Spanyol merupakan penyakit menular paling mematikan dalam sejarah umat manusia, jauh lebih berbahaya dari cacar, pes, dan kolera.

Menyebar Hingga ke Indonesia (Hindia Belanda)


Wabah Flu Spanyol merambah Indonesia (Hindia Belanda) sejak gelombang pertama pandemi. Virus diduga dibawa oleh orang-orang Tiongkok yang berlayar ke Hindia Belanda melalui Hongkong. Pada April 1918 konsul Belanda di Singapura menyurati pemerintah kolonial Hindia Belanda agar tidak menerima kapal-kapal dari Hongkong berlabuh di Batavia. Sebelumnya, konsul Belanda di Singapura itu telah menerima peringatan dari otoritas Inggris di Hongkong. Hindia Belanda pun sebenarnya punya Peraturan Karantina yang tercantum di Staatblad van Nederlandsch Indie no. 277 tahun 1911. Aturan tersebut mengatur tentang prosedur karantina kapal dan pelabuhan, juga kota untuk menekan persebaran wabah ketika terjadi epidemi. 

Sayangnya, peringatan itu tidak mendapat perhatian yang semestinya dari pemerintah kolonial. Akibatnya, protokol karantina juga tidak berjalan efektif. Kapal-kapal dari luar negeri tetap bebas berlabuh di pelabuhan-pelabuhan Hindia Belanda. Selain itu, penumpang kapal-kapal tersebut tetap diperbolehkan masuk kota seperti biasa. 

Wabah influenza yang terjadi di Hindia dalam dua periode. Gelombang pertama terjadi pada bulan Juli sampai Oktober dan diikuti oleh gelombang kedua yang lebih besar dan mematikan selama bulan November. Ketika virus itu mulai menyerang Surabaya dan kota-kota besar di Jawa pada Juli 1918, pemerintah dan penduduk tetap mengabaikan hal itu. Mereka tidak menyadari bahwa virus tersbut akan menular dengan cepat dan mewabah. Saat itu, perhatian pemerintah lebih terfokus pada penanganan penyakit-penyakit menular lain seperti kolera, pes, dan cacar, sehingga penyakit tersebut hanya dianggap flu biasa. Jalan raya dan tempat-tempat keramaian menjadi sarana penularan virus ganas tersebut.

Setelah mewabah di pulau Jawa, virus ini menjangkiti Kalimantan, Bali, Sulawesi, dan pulau-pulau kecil di sekitarnya. Pada bulan Oktober 1918, virus telah mencapai pulau-pulau kecil di sekitar Kepulauan Sunda (Nusa Tenggara). Sebulan setelahnya, virus telah mencapai Papua dan Maluku, 10 dari 1000 orang meninggal akibat flu ini. Lebih dari 10 persen populasi di Pulau Seram meninggal akibat keganasan virus ini. Sementara, 60 persen penduduk Makassar yang berjumlah sekitar 26.000 jiwa dilaporkan terjangkit virus ini dan 6 persen dari mereka meninggal dunia.

Keadaan ini diperparah dengan Burgerlijken Geneeskundigen Dienst (BGD/Dinas Kesehatan Sipil) Hindia Belanda yang salah mengartikan wabah Flu Spanyol sebagai kolera. Akibatnya, setelah muncul berbagai gejala, pemerintah menginstruksikan BGD untuk mengadakan vaksinasi kolera di setiap daerah. Kesalahan penanganan itu menyebabkan korban semakin berjatuhan.

Selain itu, ada juga dokter yang salah mendiagnosis pasien flu Spanyol sebagai pasien Malaria. Akibatnya dokter tersebut memberikan candu (opium) pada pasien tersebut untuk menghilangkan rasa sakit pada tubuh, tetapi tidak dapat menyembuhkan penyakit flu itu sendiri.

Akan tetapi, keadaan genting ini dimanfaatkan oleh sejumlah oknum yang oportunis. Oknum dokter di Hindia Belanda ada yang menaikkan tarif pengobatan menjadi dua kali lipatnya. Akibatnya, banyak masyarakat kurang mampu yang tidak bisa mendapat perawatan medis yang layak. Oleh karena itu, masyarakat menjalani pengobatan tradisional dengan meminum jamu dan melakukan pijat. Masyarakat yang percaya takhayul bahkan meenganggap penyakit ini disebabkan oleh kutukan, guna-guna, dan roh halus, sehingga banyak dari mereka yang pergi menemui dukun dan melakukan ritual pengusiran setan (Priyanto, 2009:110).

Akhirnya Ditemukan Obatnya

Pada tahun 1919, laboratorium kedokteran di Batavia telah berhasil menemukan obat untuk menyembuhkan penyakit influenza. Obat influenza ini memiliki sediaan berbentuk tablet. Obat ini tersusun dari 0,250 aspirin, 0,150 pulvis doveri dan 0,100 camphora. BGD pada periode awal produksinya dapat menghasilkan hampir 100 ribu butir obat (Mededeelingen van den Burgerlijken Geneeskundigen Dienst in Nederlandsch-Indie, 1922: 101). Tablet-tablet ini kemudian didistribusikan kepada masyarakat secara gratis. Penyediaan tablet obat influenza ini sangat membantu dalam upaya mengobati pasien influenza. Masker juga diberikan secara gratis untuk mencegah orang tertular virus.

Pemerintah kolonial melalui penerbit Balai Pustaka menerbitkan sebuah buku pedoman mengenai penyakit influenza yang berjudul "Lelara Influenza". Buku ini diterbitkan dalam bahasa Jawa dan ditulis denganhuruf Jawa.  Buku ini disusun dalam bentuk percakapan antar tokoh-tokoh wayang (punakawan) yang populer di kalangan masyarakat, sheingga pesan kesehatan dapat tersampaikan dengan lebih mudah (Priyanto, 2009: 115).


Referensi:
https://www.history.com/.amp/topics/world-war-i/1918-flu-pandemic
https://www.theguardian.com/world/2018/sep/09/spanish-flu-pandemic-centenary-first-world-war
https://www.nationalgeographic.com/archaeology-and-history/magazine/2018/03-04/history-spanish-flu-pandemic/
https://virus.stanford.edu/uda/

Belum ada Komentar untuk "Flu Spanyol, Pandemi Flu Terbesar dalam Sejarah"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel