Sistem 5 Gender pada Suku Bugis

Hingga saat ini, banyak orang yang memepercayai miskonsepsi bahwa LGBT dan sistem gender lebih dari 2 adalah semata-mata produk budaya Barat. Padahal, pada banyak budaya Indonesia, klasifikasi gender non-biner telah ada sejak jaman dahulu.
Terdapat perbedaan mendasar antara seks dan gender. Istilah seks mengacu pada profil biologis seseorang (yang berkaitan dengan alat kelaminnya), sementara gender merujuk kepada sikap, perasaan dan perilaku yang disematkan dengan jenis kelamin tertentu. Misalnya anggapan bahwa seorang laki-laki harus bersikap maskulin dan seorang perempuan mesti bersikap feminim.
Ternyata suku Bugis (pra Islam) di Indonesia memiliki klasifikasi gender yang lebih dari 2.
Apa saja gender-gender tersebut?
  • Oroane

Oroane dalam Bahasa Bugis berarti Laki-laki. Gender ini merupakan laki-laki normal yang biasa kita kenal. Mereka memiliki sikap maskulin & orientasi seks heteroseksual, sehingga mereka menyukai perempuan.
Sehari-hari mereka melakukan pekerjaan sebagaimana pria normal seperti: berdagang, melaut, membuat senjata & kerajinan besi, dll.
  • Makkunrai

Makkunrai memiliki arti perempuan. Gender ini adalah perempuan normal yang bersifat feminim dan menjalani kebiasaan sebagaimana perempuan pada umumnya seperti memasak, mengurus anak, dan bertani. Biasanya mereka memiliki sifat feminim. Selain itu, makkunrai juga memiliki orientasi seksual hetereoseksual, yaitu menyukai laki-laki.
  • Calalai

Calalai adalah seseorang dengan tubuh biologis perempuan namun mengambil peran dan fungsi laki-laki.
Seorang Calalai biasanya bekerja sebagai tukang besi, ia terbiasa membuat peralatan logam seperti keris, pisau, pedang, dan lainnya. Mereka juga menggunakan kain sarung dan pakaian laki-laki.
Seorang Calalai bekerja bersama laki-laki lain, berpakaian sebagai laki-laki, merokok, dan berjalan sendiri pada malam hari. Kebiasaan yang tak lazim dilakukan oleh para perempuan. Uniknya, mereka tidak dianggap sebagai laki-laki. Mereka juga tidak berharap menjadi seorang laki-laki. Mereka adalah seorang Calalai.
Biasanya, Calalai tinggal dan menikah dengan Mankunrai (perempuan), meskipun ada juga yang hidup selibat (tidak menikah sama sekali).
  • Calabai

Calabai adalah orang yang dilahirkan dengan anatomi tubuh laki-laki tetapi dalam kehidupan keseharian berperilaku sebagai perempuan. Meskipun demikian, mereka tidak menganggap dirinya sebagai perempuan, juga tidak dianggap sebagai perempuan oleh masyarakat.
Calabai juga mempunyai tugasnya sendiri, misalnya dalam mempersiapkan pesta pernikahan. Ketika tanggal pernikahan telah disepakati, keluarga mempelai akan merundingkan rencana pernikahan dengan calabai. Calabai kemudian bertanggungjawab atas banyak hal seperti mempersiapkan dan mendekorasi tenda, menyiapkan gaun pengantin baik bagi pengantin perempuan maupun laki-laki, mempersiapkan makanan, dan lainnya.
Pada hari di mana pesta berlangsung, calabai akan tinggal di dapur untuk mempersiapkan makanan, sementara calabai yang lain bertugas untuk menunjukkan tempat bagi tamu undangan.
Calabai biasanya menyukai Laki-laki. Meskipun ada juga yang selibat.
  • Bissu
Inilah gender paling unik dan sangat jarang ditemui di dunia. Bagi masyarakat Bugis, bissu dianggap sebagai figur spiritual vital yang menghubungkan manusia dengan dewa. Karena itulah, bissu merupakan kombinasi dari dua gender. Untuk menjadi seorang bissu, jika ia lahir sebagai dengan jenis kelamin laki-laki maka ia memiliki gender (pribadi) perempuan, begitu juga sebaliknya.
Kombinasi ini merujuk pada makna filosofis yang dianut oleh masyarakat Bugis kuno yang mengacu pada nama naskah klasik La Galigo. “I La Galigo” memuat makna simbolik di mana ikon manusia sempurna sekaligus penyelamat masyarakat didahului dengan simbol “Perempuan” baru kemudian simbol “Laki-laki.” Secara harfiah, ungkapan tersebut berarti manusia sempurna adalah manusia yang memiliki unsur keperempuanan dan kelaki-lakian secara seimbang dan adil.
Peran Bissu ini menjadikannya sebagai orang yang memiliki bahasanya sendiri yang juga diyakini sebagai bahasa orang-orang langit. Bahkan di masa lalu, ketika masih berbentuk kerajaan, bissu kerap diberikan kepercayaan oleh raja untuk menjaga dan melindungi arajang (pusaka kerajaan).
Bissu juga tidak memiliki orientasi seksual alias aseksual, sehingga mereka hidup selibat.
Biasanya, orang Bugis kuno yang hendak melakukan perjalanan akan meminta restu para Dewa melalui Bissu. Selanjutnya, Bissu akan melakulan ritual yang disebut Ma'giri, mereka akan menari sambil menusuk-nusukkan parang ke tubuhnya. Jika para Dewa memberkati permintaan pemohon, maka darah tidak akan keluar dari tubuh Bissu usai ritual Ma'giri dilaksanakan.
Referensi:

Belum ada Komentar untuk "Sistem 5 Gender pada Suku Bugis"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel