Penjelajah Wanita nan Tangguh

Selama ini, dunia memiliki banyak penjelajah yang memiliki kisah-kisah penjelajahan yang menegangkan dan menginspirasi. Kebanyakan dari penjelajah terkenal dalam sejarah seperti Columbus, Vasco da Gama, Magelhaens, Wallace, Darwin, dll merupakan laki-laki. Akan tetapi, ada juga penjelajah tangguh yang merupakan perempuan yang kisahnya tidak kalah menarik, seperti:

Jeanne Baret, Prancis

Jeanne Baret

Jeanne Baret lahir pada 27 Juli 1740 di Autun, Prancis. Jeanne merupakan anak dari seorang petani herbal di Prancis. Karena pengetahuannya akan tanaman herbal, di masa remajanya Baret direkrut untuk bekerja sebagai pelayan pada seorang ahli botani dan sejarah alam bernama Philibert Commerson. Pada tahun 1765, Philibert Commerson diajak oleh seorang penjelajah dan laksamana Prancis bernama Louis-Antoine de Bougainville untuk mencari teritori baru untuk Prancis, sebagai seorang botanist (ahli tanaman). Untuk itu, Commerson turut mengajak Jeanne sebagai asistennya dalam penjelajahan tersebut. Pada masa itu, perempuan tidak diperbolehkan ikut dalam penjelajahan melintas samudera, oleh karena itu, Jeanne disamarkan menjadi laki-laki bernama Jean.
Mereka berangkat dari Nantes, Prancis pada tahun 1766 dengan menggunakan kapal bernama Boudeuse dan Étoile Tujuan dari penjelajahan ini adalah untuk mengelilingi dunia sembari mencari teritori Prancis dan mempelajari keanekaragaman hayati yang ada di sana. Pemberhentian pertama Jeanne adalah di Montevido, Uruguay. Karena Commerson tidak sehat pada penjelajahan ini, Jeanne lebih banyak mengambil bagian untuk meneliti tanaman-tanaman yang ada di Montevido, Uruguay. Setelah itu, kapal mereka kembali bertolak menuju Rio de Janeiro, Brazil. Di sini, Jeanne dan Commerson bersama-sama meneliti tanaman di hutan hujan Brazil. Jeanne menemukan bunga berwarna pink cerah yang kemudian ia beri nama Bougainvillea, seperti nama kapten penjelajahan itu.
Setelah menjelajahi Amerika Selatan, mereka bertolak ke Tahiti. Setelah anggota ekspedisi melihat kecantikan penduduk Tahiti, mereka menamai tempat tersebut sebagai New Cythera. Dalam mitologi Yunani, Cythera adalah tempat lahir dewi cinta dan kecantikkan, Aphrodite. Di Tahiti, penyamaran Jeanne sebagai laki-laki terbongkar. Dari Tahiti, mereka menuju ke Papua Nugini. Di sini, Jeanne mempelajari kerang-kerang laut. Setelah itu, ekspedisi ini berlanjut ke Mauritius. Ketika ekspedisi hendak kembali ke Prancis, Jeanne dan Commerson tidak ikut kembali ke Prancis dan tetap tinggal di Mauritius. Jeanne kembali ke Prancis setelah Commerson meninggal di Mauritius pada tahun 1773. Pada tahun 1774, Jeanne menikah dengan seorang tentara Prancis bernama Jean Dubernat dan menetap di Saint-Aulaye, Prancis. Jeanne meninggal pada 5 Agustus 1807.
Jeanne Baret tercatat dalam sejarah sebagai perempuan pertama yang berlayar mengelilingi dunia.

Nellie Bly, Amerika Serikat


Nellie Bly

Nellie Bly yang memiliki nama asli Elizabeth Jane Cochran lahir pada 5 Mei 1864 di Pennsylvania, Amerika Serikat. Ia pindah ke New York City pada tahun 1886 untuk mencari penghidupan. Di sana, Elizabeth sempat masuk ke dalam rehabilitasi di rumah sakit jiwa New York selama 10 hari. Setelah selesai rehabilitasi, ia bekerja menjadi jurnalis. Kisahnya menjadi pasien rehabilitasi mental tersebut ia tulis dalam 6 seri pada koran New York World. Dalam menulis kisahnya, Elizabeth menggunakan pesudonym/nama pena Nellie Bly. Kisah fenomenalnya itu ia tulis dalam gaya jurnalisme investigatif yang detail dan mendalam. Berkat tulisannya tersebut, Bly menjadi salah satu jurnalis paling terkenal pada masa itu.
Karir Bly semakin cemerlang ketika ia memutuskan untuk mengelilingi dunia dalam waktu 80 hari, yang mana persis dengan kisah fiksi penjelajah Phileas Fogg dalamberjudul Around the World in Eighty Days karya Jules Verne. Ia bertekad untuk melakukan perjalanan tersebut dan mengalahkan rekor perjalanannya yang dilakukan selama 80 hari.
Pada 14 November 1889, Nellie Bly berangkat dari New York untuk memulai perjalanannya. Dari New York, Bly bertolak menuju Eropa untuk singgah di Inggris. Dari Inggris, ia melanjutkan perjalanannya menuju Prancis. Di kota Amiens, Prancis ia bertemu dengan Jules Verne, penulis novel Around the World in Eighty Days yang menjadi inspirasinya. Dari Prancis, Bly berangkat menggunakan kereta menuju Italia dan kemudian meninggalkan benua Eropa melewati Laut Mediterania.
Nellie Bly meneruskan perjalanannya melalui Terusan Suez dengan kapal uap untuk menuju Asia. Sesampainya di Asia, ia mengunjungi India, Sri Lanka, Penang (Malaysia), Singapura, Hong Kong, dan Jepang. Dengan menggunakan kapal uap bernama Oceanic, Bly mengarungi Samudra Pasifik dari Jepang untuk kembali ke Amerika Serikat. Nellie Bly kembali menginjakan kakinya di Amerika pada 21 Januari 1890 ketika ia sampai di San Fransisco.
Dari San Fransisco, Nellie Bly melanjutkan perjalanan menggunakan kereta menuju New Jersey. Empat hari kemudian, ia tiba di New Jersey dan disambut layaknya pahlawan. Kedatangannya di New Jersey menandai akhir dari perjalanannya dalam mengelilingi dunia. Nellie Bly menyelesaikan perjalanannya mengelilingi dunia selama 72 hari yang berarti ia lebih cepat 8 hari dari Phileas Fogg yang memerlukan waktu 80 hari.
Pada tahun 1895, Bly menikah dengan seorang milyader bernama Robert Seamen. Ketika suaminya meninggal pada tahun 1903, Bly mengambil alih perusahaan milik suaminya. Selama memimpin perusahaan milik suaminya, Bly berhasil mematenkan inovasi terkait industri minyak bumi. Pada era perang dunia pertama, Bly kembali menjadi jurnalis yang menulis situasi masa perang dan turut mendukung Suffrage Movement yang meperjuangkan hak-hak perempuan.

Elizabeth Bisland, Amerika Serikat


Elizabeth Bisland

Melihat "sensasi" yang dibuat Nellie Bly, pihak koran Cosmopolitan mengirim jurnalisnya yang bernama Elizabeth Bisland untuk menyaingi Nellie Bly. Elizabeth Bisland menggunakan rute berlawanan dimana ia pergi ke arah barat, melalui California dan Hawaii untuk menuju Asia. Bisland berangkat pada hari yang sama dengan Bly. Bisland tiba di New York pada 30 Januari 1890 dan berhasil mengelilingi dunia dengan menghabiskan waktu selama 76,5 hari yang berarti ia kalah cepat dari Nellie Bly. Meski begitu, Bisland tetap lebih cepat dari Phileas Fogg yang memerlukan waktu 80 hari.

Isabella Bird, Inggris


Isabella Bird

Isabella Lucy Bird merupakan penjelajah, penulis, dan naturalis asal Inggris. Sejak kecil, Bird telah mengalami masalah saraf dan insomnia. Untuk itu, dokter pribadinya menyarankannya untuk memperbanyak aktivitas di luar ruangan. Bird kemudian pindah dari Inggris ke Australia, lalu ke Hawaii dan San Francisco, Amerika Serikat. Dari San Francisco, ia berkuda ke Lake Tahoe, Pegunungan Rocky, sampai ke Colorado. Kisah petualangannya menjelajah Amerika saat musim dingin ini ia tulis dalam buku berjudul "A Lady's Life in the Rocky Mountains" yang terbit pada tahun 1879.
Dari San Francisco, Bird berlayar menuju Jepang. Bird menjelajahi Hokkaido, Jepang Utara dan tinggal bersama suku Ainu. Kisah penjelajahannya di Jepang ia terbitkan pada tahun 1880 dengan judul "Unbeaten Tracks in Japan". Setelah menjelajahi Jepang, ia melanjutkan perjalanan ke Hong Kong, Guangzhou, Saigon, dan Singapura. Ia juga menjelajahi semenanjung Malaysia selama 5 minggu. Sekembalinya ke Inggris, ia menikah dengan seorang dokter bernama John Bishop. Malangnya, suaminya meninggal di tahun ke-5 pernikahan mereka.
Sepeninggal sang suami, Bird kembali menjelajah dunia. Kali ini, ia pergi ke India. Untuk mengenang suaminya, di India, ia membangun Henrietta Bird Hospital di Amritsar dan John Bishop Memorial Hospital di Srinigar. Bird sempat mengalami patah tulang saat di India. Meski begitu, ia tetap meneruskan perjalanannya menuju ke Iran. Ia menghabiskan waktu 6 bulan untuk menjelajahi Iran, Kurdistan, sampai Turki.
Sekembalinya ke Inggris, Bird berbicara menentang kekejaman yang dilakukan terhadap orang-orang Armenia di Timur Tengah dan bertemu dengan Perdana Menteri William Gladstone dan berbicara kepada komite Parlemen mengenai hal tersebut. Setelah itu, ia diangkat sebagai perempuan pertama yang menjadi dewan kehormatan di Royal Geographical Society. Meski demikian, ia tidak merasa bahagia dengan hal tersebut dan memutuskan untuk kembali melakukan perjalanan.
Ia memulai perjalanan dari Jepang, kemudian menuju Korea untuk menetap selama beberapa bulan sebelum akhirnya meninggalkan Korea karena perang Sino-Japan. Ia lalu pergi ke sungai Yangtze untuk menuju ke Sichuan, Tiongkok. Di Tiongkok, ia diserang dan disekap oleh segerombolan orang di sebuah rumah yang akan dibakar. Ia selamat setelah dibebaskan oleh tentara Tiongkok. Ia kemudian kabur dan pergi ke Tibet sebelum kembali ke Inggris. Kisah mencekamnya di Tiongkok ia goreskan pada buku yang berjudul "The Yangtze Valley and Beyond" yang terbit pada 1900.
Perjalanan terakhirnya, dilakukannya pada tahun 1901 dengan tujuan Maroko dan Afrika Utara. Ia kembali dalam keadaan sakit dan akhirnya meninggal pada 7 Oktober 1904 di Edinburgh, Skotlandia.
Referensi:
Krulwich, Robert. “The First Woman To Go ‘Round The World Did It As A Man.” NPR. January 24, 2012. The First Woman To Go 'Round The World Did It As A Man.
Ruddick, Nicholas. 1999. "Nellie Bly, Jules Verne, and the World on the Threshold of the American Age." Canadian Review of American Studies, Volume 29, Number 1, p. 5
Goodman, Matthew. 2013. Elizabeth Bisland’s Race Around the World. Public Domain Review Elizabeth Bisland’s Race Around the World

Belum ada Komentar untuk "Penjelajah Wanita nan Tangguh"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel