Penemu Model DNA Double Helix yang Terlupakan


Model DNA Double Helix

Watson & Craig
Sebagian besar dari orang yang pernah berkuliah di Jurusan Biologi, Kedokteran, dan Teknologi Bioproses pasti mengenal DNA double helix (rantai ganda) sebagai Watson & Crick Model. Sebagian besar orang menganggap Watson & Crick adalah penemu DNA double helix.
Rosalind Franklin
Sebenarnya, ada seorang penemu model DNA ini sebelum Watson & Craig. Dia adalah seorang ilmuwan bernama Rosalind Franklin.
Rosalind Elsie Franklin merupakan ilmuwan Inggris ahli kimia dan crystallographer Sinar-X yang sangat berperan besar dalam penemuan struktur  molekul halus DNA (deoxyribonucleic acid), RNA, virus, batubara, dan grafit. Ia lahir tanggal 25 Juli 1920 di Notting Hill, London. Sejak kecil, Franklin mengenyam pendidikan di sekolah khusus wanita yang mengajarkan tentang fisika dan kimia.
Awalnya sang ayah menolak untuk membiayai pendidikannya. Tetapi, bibi Franklin akhirnya turun tangan dan bersedia menanggung semua biaya pendidikannya. Dikarenakan Ibu Franklin sependapat dengan sang bibi yang katakan bahwa Franklin berhak dan harus mendapatkan pendidikan tinggi, akhirnya lambat laun ayahnya mengijinkannya untuk melanjutkan sekolah.
Pada tahun 1938 Franklin terdaftar menjadi mahasiswa Newnham College, Chambridge dan lulus pada tahun 1941. Kemudian Franklin mendapatkan graduate fellowship selama setahun. Tetapi pada tahun 1942 dia memutuskan menjadi research assistant officer di British Coal Utilisation Research Assosiation (BCURA). Di sana akhirnya dia belajar tentang karbon dan graphite microstructures sebagai thesis doctoral yang mengambil tema tentang kimia fisika.
Pada tahun 1945 akhirnya dia menyelesaikan studinya dari Chambridge University. Setelah lulus, selama 3 tahun Franklin mempelajari teknik difraksi X-Ray di  Laboratoire Central des Services Chimiques de L’Etat, Paris. Pada tahun 1951, Franklin kembali ke Inggris dan menjadi research associate di John Randall’s lab, King’s College, London.
Eksperimen DNA dimulai Ketika Franklin bekerja di King’s College, meskipun sebelumnya Franklin hanya fokus di bidang Sinar -X pada protein dan lemak. Awalnya sebelum Franklin datang ke King’s College, sudah ada Maurice Wilkins dan Raymond Gosling yang mengerjakan proyek DNA tersebut.
Akan tetapi, tanpa sepengetahuan Wilkins, Randall meminta Franklin untuk membimbing Gosling dalam menyelesaikan thesis doktoralnya tentang difraksi DNA. Berawal dari situlah, hubungan antara Franklin dan Wilkins menjadi tidak baik dan sering terjadi kesalahpahaman.
Foro DNA Pertama
Pada saat itu ditemukan bahwa pada 2 bentukan DNA, yaitu pada saat basah serat DNA akan menjadi panjang dan tipis. Sedangkan pada saat kering serat DNA akan berbentuk pendek dan berisi. Dua macam data DNA tersebut diistilahkan sebagai DNA ‘A’ dan ‘B’. Sehingga Franklin dan Wilkins membagi pekerjaan tersebut, Franklin memilih data DNA ‘A’ sedangkan Wilkins adalah DNA ‘B’. Kemudian pada akhirnya Franklin dan Gosling berhasil mendapatkan data gambar hasil difraksi X-Ray DNA ‘A’ tersebut.
Hingga seorang ilmuwan J. D. Bernal berpendapat bahwa, “The most beautiful X-ray photographs of any substance ever taken.” Foto DNA di atas terkenal dengan nama “Photo 51”.
Dikarenakan suatu hal, akhirnya kelompok ilmuwan yang juga terdapat Franklin di dalamnya harus berantakan. Akhirnya ia mengepalai kelompok risetnya sendiri di Birkbeck College London. Dari situlah, penemuan Franklin dan kelompok ilmuwannya dijadikan dasar ilmu virologi struktural.
Selain penelitian, Franklin juga menerbitkan sejumlah buku panduan penelitian. Dia juga menjadi pelopor penggunaan metode difraksi sinar X untuk membuat gambar zat padat yang dikristalkan dan dengan metode ini, ilmuwan juga dapat menganalisis bahan yang rumit dan tidak teratur seperti molekul biologis besar.
Konflik datang pada tahun 1953, di saat Franklin masih melakukan revisi dalam artikel manuskrip terakhirnya di Nature, ternyata Crick dan Watson mempublikasikan tentang deskripsi double helix DNA ke Nature. Yang membuat Wilkins dan Franklin kecewa adalah dalam publikasi Crick dan Watson mencantumkan bahwa Franklin dan Wilkins hanya sebagai kontributor tak tercatat. Atas publikasi mereka itu pun, Watson & Crick mendapat nobel fisiologi
Hingga tahun 1958, Franklin menghembuskan nafas terakhirnya pada usia 37 tahun karena kanker ovarium. Sepeninggal Franklin, banyak sekali kontroversi yang beredar di kalangan dunia ilmiah. Salah satunya adalah bahwa ilmuwan wanita masih tidak diperbolehkan melakukan publikasi ilmiah.
Selain isu tersebut, ada isu lain tentang penerimaan nobel prize. Seharusnya dalam kasus ini Franklin pun mendapat hadiah nobel. Akan tetapi karena Franklin telah meninggal, maka hadiah nobel tidak berhak diterima oleh Franklin.
Begitulah alasan mengapa saat ini kita hanya mengenal Crick dan Watson sebagai penemu struktur DNA.
References:

Belum ada Komentar untuk "Penemu Model DNA Double Helix yang Terlupakan"

Posting Komentar

PopCash

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel