Misi Rahasia Negara Koes Plus

Koes Plus
Jika diluar negeri ada Mata Hari, sang seniman (semi) erotis yang merangkap mata-mata di masa PD 1 atau Marilyn Monroe yang (katanya) agen CIA. Ternyata Indonesia punya grup band legendaris yang pernah menjalankan misi rahasia negara. Siapakah dia? Dia adalah Koes Bersaudara alias Koes Plus.
Koes Plus merupakan band Indonesia yang berdiri pada tahun 1969, band ini merupakan kelanjutan dari band Koes Bersaudara. Koes Plus dianggap sebagai pelopor band yang mengusung genre musik pop dan rock 'n roll di Indonesia.
Koes Bersaudara menelurkan banyak lagu-lagu legendaris seperti “Bis Sekolah”,“ Di Dalam Bui”, “Telaga Sunyi”, “Laguku Sendiri” dan lain-lain. Nomo (Koesnomo) selain bermain musik mempunyai pekerjaan lain sementara itu Tonny menghendaki totalitas dalam bermusik yang membuat Nomo harus memilih: tetap bermusik bersama Koes Bersaudara atau keluar. Nomo akhirnya memilih keluar dari band yang akhirnya juga diikuti oleh adiknya Koesroyo (Yok). Setelah keluarnya dua anggota Koes Bersaudara yaitu Koesnomo (Nomo) dan Koesroyo (Yok), Koes Bersaudara pun bubar. Tonny yang terus ingin bermusik menggandeng dua musisi lain yaitu Kasmuri (Murry) dan Totok AR, yang merupakan pemain bass group Philon. Band ini memakai nama Koes Plus, artinya plus dua orang di luar keluarga Koeswoyo: Totok A.R dan Murry.
Jika lagu-lagu Koes Bersaudara lebih banyak menekankan harmonisasi vokal (seperti lagu “Telaga Sunyi”, “Dewi Rindu” atau “Bis Sekolah”) lagu-lagu Koes Plus lebih bervariasi.
Tradisi membawakan lagu ciptaan sendiri merupakan tradisi yang diciptakan Koes Bersaudara. Selanjutnya tradisi ini dilanjutkan Koes Plus dengan album serial volume 1, 2 dan seterusnya. Setelah dibentuk, Koes Plus tidak langsung mendapat simpati dari pecinta musik di Indonesia. Piringan hitam album pertamanya bahkan ditolak beberapa toko kaset. Mereka bahkan menganggap buruk lagu “Kelelawar”.
Kemudian Murry yang merasa kesal dengan penolakan itu akhirnya pergi ke Jember untuk membagi-bagikan piringan hitam albumnya secara gratis pada teman-temannya. Ia lalu bekerja di pabrik gula sekalian main band bersama Gombloh dalam grup musik Lemon Trees. Tonny yang kemudian menyusul Murry untuk diajak kembali ke Jakarta.
Setelah lagu “Kelelawar” diputar di RRI orang lalu mencari-cari album pertama Koes Plus. Beberapa saat kemudian melalui lagu-lagunya yang berjudul “Derita”, “Kembali ke Jakarta”, “Malam Ini”, “Bunga di Tepi Jalan” dan "Cinta Buta”, Koes Plus mendominasi musik Indonesia waktu itu.
Koes Plus memiliki perjalanan yang berliku. Pada tahun 1965, sebelum peristiwa G30S PKI pecah, para personel Koes Plus dijebloskan ke penjara. Hal itu terjadi tepatnya pada bulan Juni.
Perang kultur menjadi alasan Koes Plus dipenjara. Mereka membawakan lagu milik the Beatles yang berjudul "I Saw Her Standing There" pada sebuah pesta di rumah Kolonel Koesno di Petamburan, Jakarta Barat.
Koes Plus tidak dianggap pro-nasionalisme karena membawakan musik Ngak-ngik-ngok dari the Beatles, yang dibenci rezim pada masa itu.
Pada buku Kisah dari Hati: Koes Plus Tonggak Industri Musik Indonesia karya Ais Suhana, ada alasan khusus di balik peristiwa pemenjaraan Koes Plus. Menurut buku tersebut, jika peristiwa G30S tidak terjadi Koes Bersaudara akan dikirim ke Malaysia melaksanakan misi rahasia negara.
Menurut pengakuan Yok Koeswoyo, pemberitaan yang beredar selama ini keliru. Koes Bersaudara waktu itu ternyata dirancang sedemikian rupa sebagai korban karena telah membawakan lagu-lagu the Beatles.
Pada masa itu, Indonesia memang sedang ada sentimen tinggi dengan Malaysia. Pada awal tahun 1960-an, Malaysia tengah menyusun entitas dan identitas baru. Soekarno pada waktu itu tegas menentang adanya "negara boneka" Inggris di sekitar Indonesia yang merujuk pada Malaysia. Hal ini berujung dengan konfrontasi langsung yang terjadi di wilayah Serawak.
Seni dan budaya merupakan senjata yang sewaktu-waktu dapat digunakan penguasa untuk memuluskan tujuan politik. Bukan tidak mungkin jika pada saat itu misi rahasia yang disiapkan adalah untuk menghimpun kekuatan pro-Indonesia dengan menggempur Malaysia melalui panggung-panggung musik dari musisi Indonesia (semacam Indonesian "invasion".).
Jadi, alasan memenjarakan Koes Plus adalah untuk menggiring opini di Malaysia bahwa pemerintah Indonesia 'benci' dengan Koes Plus, sehingga mereka akan lebih mudah jika disusupkan ke sana.
Meski rencana ini batal akibat prahara G30S PKI menghantam Indonesia, tetapi cara serupa tetap dilakukan untuk kasus lainnya, yaitu pemetaan politik masyarakat di Timor Leste (Timor Portugis pada waktu itu).
Pada tahun 1974, di bawah rezim Orde Baru, Koes Plus tampil di Timor Leste. Masih dalam pembahasan buku karya Ais Suhana, Koes Plus disebut dikirim ke sana untuk melihat bagaimana condong sikap politik masyarakat Timor Leste, apakah pro-Indonesia atau tetap teguh memihak ke Portugal.
Biar bagaimanapun, seni termasuk musik merupakan bagian dari kultur masyarakat yang kekuatannya maha-dahsyat jika diberdayakan.
Dalam tiap era, seni memiliki peran tersendiri dalam membentuk kultur, penyebar opini juga jadi penyulut api pergerakan. Koes Plus adalah potret bagaimana seni dapat jadi senjata mematikan, yang sungguh berbisa tanpa harus menggigit. 
Yes indeed. Pens are sharper than the sword.
Referensi:

Belum ada Komentar untuk "Misi Rahasia Negara Koes Plus"

Posting Komentar

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel